Senin, 02 Juni 2014

AMERIKA SERIKAT DALAM PERANG DUNIA I DAN PERANG DUNIA II




Description: D:\Ilmu Keperawatan\Logo Unej Biasa.JPG 



           

AMERIKA SERIKAT DALAM PERANG DUNIA I DAN PERANG DUNIA II
Disusun guna untuk memenuhi tugas matakuliah Sejarah Amerika




Oleh:

            Maftuhin                   
                                                            120210302047

Kelas : B





PROGRAM STUDI PENDIDIKAN SEJARAH
JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS  JEMBER
2014

KATA PENEGENTAR

Puji syukur kami panjatkan atas rahmat Allah SWT karena atas rahmat-Nya semata, penulisan makalah dengan judul “AmerikadalamPerangDunia I danPerangDunia II” dapat diselesaikan tepat pada waktunya.
Dengan terselesaikannya penulisan makalah ini penulis menyampaikan terima kasih  kapada semua pihak yang membantu dalam penyelesaian makalah ini. Kami juga mohon maaf apabila dalam penulisan makalah ini terdapat kesalahan dalam penulisannya. Kami selaku penulis juga berharap semoga makalah ini bermanfaat bagi semua pihak terutama akivitas Akademika di Universitas Jember.








Jember, 29 April 2014


Penulis



                                                                          ii



DAFTAR ISI
Kata Pengantar…………………………………………………………………ii
Daftar Isi……………………………………………………………………….iii
BAB 1. PENDAHULUAN…………………………………………………….1
1.1         LatarBelaikang…………………………………………………………1
1.2         RumusanMasalah………………………………………………………2
1.3         Tujuan……………………………………………………………..........2
BAB 2. PEMBAHASAN……………………………………………………...3
2.1    PolitikIsolasiAmerikaSerikat…………………………………………3
2.2    Doktrin Monroe……………………………………….………………..4
2.3     AmerikadalamPerangDunia I……………….……………………….6
2.4     AkhirPerangDunia I…………...……………………………………...8
2.5     LatarbelakangPenyebabAmerikaterlibatPerangDunia II….……….9
2.6     Proses jalanyaPerangDunia II………………………………………..11
2.7     DampakPerangDunia II BagiAmerika………………………………14

BAB 3. PENUTUP…………………………………………………………....18

3.1     Simpulan……………………………………………………………….18
3.2     Saran…………………………………………………………………...19

DAFTAR PUSTAKA…………………………………………………………20






iii




BAB 1. PENDAHULUAN


1.1  Latar belakang
Di dunia ini perang besar pernah terjadi beberapa kali dan ada dua yang termasuk tingkat perang dunia. Perang Dunia I terjadi tahun 1914-1918, sementara yang kedua terjadi pada 1939-1945. Kedua perang tersebut melibatkan sebuah negara yang kini merupakan satu-satunya negara superpower setelah runtuhnya Uni Sovyet, yaitu Amerika Serikat.
Amerika menjadi negara yang menentukan setiap kemenangan pihak sekutu dalam Perang Dunia I. Seusai perang dunia I banyak hal yang terjadi terhadap negara-negara didunia. salah satunya Amerika, terjadi perubahan-perubahan keadaan baik dari segi politik, ekonomi,maupun sosial.tahun-tahun permulaan setelah perang selesai merupakan tahun yang berat bagi amerika.hal ini menimbulkan masalah-masalah baru di dalam negeri amerika,baik masalah yang timbul dari dalam maupun dari luar.berbagai macam perundingan dilakukan,namun adanya pengingkaran kesepakatan seperti jepang terhadap nine power treaty dan adanya perlombaan senjata,mengakibatkan timbulnya hembusan perang dunia II.
Uniknya negara ini sebelumnya telah menyatakan netralitasnya dalam awal peperangan. namun karena ada suatu kepentingan, maka Amerika akhirnya terjun juga dalam peperangan ini. Sebagai tambahan dalam Perang Dunia berikutnyapun, Amerika juga menerapkan kebijakan yang sama
Kebijakan-kebijakan dari presiden berkuasa saat itu, Woodrow Wilson juga akan dibahas karena setiap kebijakan luar negeri Amerika ada hubungannya dengan Doktrin Monroe. Doktrin ini juga menjadi acuan penting dalam politik luar negeri di sebagian besar negara di dunia. Di Amerika sendiri doktrin ini digunakan sesuai dengan kepentingan- kepentingan strategis Amerika di dunia, terutama masalah perang.
Pembahasan tentang hal-hal di atas ditujukan untuk mengetahui bagaimana Amerika memproses kebijakan-kebijakan luar negerinya dalam Perang Dunia I sesuai dengan situasi yang berkembang karena perubahan-perubahan didalamnya tentu tidak merupakan suatu hal semata namun juga melalui pemikiran-pemikiran tertentu. Tentu saja, kaitannya dengan doktrin Monroe juga akan disinggung sebagai dasar politik luar negeri Amerika.

1.2  Rumusan masalah
1.2.1        Bagaimana politik isolasi Amerika Serikat ?
1.2.2        Bagaimana peran Doktrin Monroe bagi Amerika Serikat?
1.2.3        Bagaimanakondisi Amerika Serikat dalam Perang Dunia I?
1.2.4        Bagaimana kondisi Amerika Serikat dalam Perang Dunia II?

1.3  Tujuan
1.3.1        Mengetahui politik isolasi Amerika Serikat.
1.3.2        Mengetahui peran Doktrin Monroe bagi Amerika Serikat.
1.3.3        Mengetahui kondisi Amerika Serikat dalam Perang Dunia I.
1.3.4        Mengetahui kondisi Amerika Serikat dalam Perang Dunia II.




BAB 2. PEMBAHASAN

2.1 Politik Isolasi Amerika Serikat
Isolasionalisme mengacu pada perilaku politik Amerika yang cenderung menghindari keterlibatan dalam aliansi Eropa dan konflik-konflik di negara Eropa. Isolasionis berpandangan bahwa perspektif Amerika terhadap dunia berbeda dengan budaya perang yang terus berlangsung antar negara-negara Eropa, elit politik Amerika generasi pertama berasumsi bahwa Amerika mmapu memajukan kebebasan dan demokrasi dengan cara selain perang. Akan tetapi, politik isolasi yang dianut Amerika bukan berarti menutup gerbang hubungan antara Amerika dan dunia. Isolasionis tidak menolak ide bahwa Amerika Serikat harus menjadi penguasa dunia dengan memperluas teritorialnya, menyebarkan ideologi dan mewujudkan kepentingan ekonomi terutama ke negara-negara di belahan Barat.
Gagasan politik isolasi dikristalisasi dari Thomas Paine’s common sense yang menyajikan berbagai argument untuk menghindari aliansi. Gagasan tersebut diterima dengan baik oleh kongres dengan salah satu buktinya adalah Amerika menolak untuk melakukan aliansi dengan Perancis. Sebelum melepas jabatannya George Washington, dalam pidatonya ia berpendapat bahwa Amerika tetap harus mempertahankan tujuan utamanya, yaitu untuk memperluas hubungan komersial dengan negara lain. akan tetapi Amerika sedapat mungkin menghindari koneksi politik dengan negara-negara Eropa yang pada dasarnya tidak memuat hal-hal yang dapat melancarkan perwujudan kepentingan nasional Amerika selain itu mengingat jarak yang jauh antara Amerika dan Eropa menambah ketidakefektivan hubungan antara Amerika dan negara-negara Eropa. Oleh karena itu bukanlah suatu kebijakan yang bijak untuk melibatkan diri dalam suatu ikatan artfisial antara Amerika dan Eropa. Politik isolasi ini pun didukung oleh Presiden Thomas Jefferson yang dalam pidatonya mengatakan Amerika berusaha mewujudkan perdamaian, perdagangan dan menjalin hubungan yang baik dengan seluruh negara tanpa harus terlibat dalam aliansi dengan mereka.
2.2 Doktrin Monroe
Amerika Serikat tetap terisolasi secara politik sepanjang abad ke-19 dan awal ke-20, sebuah prestasi yang tidak biasa dalam sejarah Barat. Pada tahun 1823 Presiden Monroe yang ikut mendukung adanya politik isolasi menyuarakan apa yang kemudian disebut sebagai “Doktrin Monroe”. Presiden Monroe menyatakan dalam doktrinnya bahwa hanya dengan mengisolir diri Amerika akan terhindar dari bencana politik yang disebbakan peperangan sebagaimana terjadi di Eropa. Dengan doktrin tersebut Amerika menegaskan dirinya untuk tidak menjadi anggota blok manapun.
Doktrin Monroe (Monroe Doctrine) adalah asas politik luar negeri Amerika Serikat yang terkandung dalam pesan Presiden Monroe kepada Kongres tahun 1823. Doktrin berawal dari dua masalah diplomatik, yaitu pertempuran secara kecil-kecilan dengan Rusia mengenai pantai barat laut Amerika Serikat dan kekhwatiran bahwa Aliansi Suci (Rusia, Austria, Prusia) akan mencoba menguasai kembali negara-negara Amerika Latin yang baru saja melepaskan diri dari Spanyol. Menteri Luar Negeri Inggris menghendaki pengiriman pernyataan bersama Inggris-Amerika kepada negara-negara anggora Aliansi Suci, tetapi Amerika bersikeras bertindak sendiri dan menyusun doktrin tersebut yang mengandung 2 hal penting, yaitu:
  1. Tidak diperbolehkan kolonisasi baru di Amerika Utara dan Selatan.
  2. Tidak akan diizinkan campur tangan negara-negara Eropa dalam persoalan-persoalan yang dihadapi negara-negara Amerika.
Dikeluarkannya Doktrin Monroe ini, maka upaya negara-negara Eropa untuk menjajah atau melakukan campur tangan terhadap negara-negara di benua Amerika akan dipandang sebagai agresi, sehingga AS akan turun tangan. Akan tetapi, Amerika Serikat tidak akan mengganggu jajahan Eropa yang sudah ada. Doktrin ini diterapkan setelah sebagian besar jajahan Spanyol dan Portugal di Amerika Latin telah merebut kemerdekaannya.
Tujuan pokok Doktrin Monroe adalah mencegah Perancis atau Spanyol untuk meluaskan kembali kekuasaan kolonialisasinya atas kelas koloni Spanyol di Amerika Tengah dan Selatan, serta mencegah Rusia untuk memperluas wilayahnya di Amerika Utara.
Ada dua hal yang patut disimak pada empat prinsip Doktrin Monroe, yaitu : pertama, kembali kepidato perpindahan George Washington, yang menyatakan bahwa Amerika Serikat akan bersikap netral dalam konflik di Eropa; kedua : menyatakan bahwa sesudah ini, Amerika Serikat akan menganggap Amerika Utara dan Amerika Selatan  diluar batas penaklukan oleh Eropa. di sisi lain Doktrin Monroe intinya adalah “Amerika for the Americans”,ini berarti:(1) Politik isolasi, artinya dunia luar Amerika jangan mencampuri soal-soal dalam negeri Amerika dan sebaliknya Amerika jangan ikut-ikut dalam soal-soal di luar Amerika;(2) Pelopor Pan-Amerikanisme, artinya seluruh negara-negara di Amerika harus merupakan satu keluarga Bangsa Amerika dibawah pimpinan Amerika.
Kebijakan ini dikeluarkan berkaitan dengan adanya kesepakatan negara-negara Eropa yang tergabung dalam Aliansi Suci untuk saling membantu memulihkan kekuasaannya di negeri jajahan khususnya di Benua Amerika. Menanggapi tindakan pesekutuan negara-negara Eropa itu Amerika Serikat berusaha untuk memebendung mereka dengan mengeluarkan kebijakan isolasionis terhadap Benua Amerika. kebijakan ini seakan memberikan perlindungan terhadap bangsa-bangsa di Amerika (latin) dan sekaligus dapat mengamankan kepentingan dirinya sendiri (USA). Kebijakan ini kendatipun dilakukan pada masa pemerintahanMonroe.
Namun demikian, tekanan internasional yang makin meningkat mulai melemahkan kebijakan isolasi Amerika di awal pertengahan abad ke-20.  Munculnya ekspansi Jerman dan Jepang yang terus mengancam perlahan-lahan memadamkan sikap acuh tak acuh Amerika terhadap keadaan dunia. Pendudukan Amerika atas Filipina hingga perang antara Amerika dan Spanyol terus memperluas kepentingan Amerika hingga jauh ke barat Samudera Pasifik. Peningkatan transportasi dan komunikasi seperti kapal uap, kabel bawah laut, dan radio menghubungkan dua benua meningkatkan intensitas perdagangan luar negeri yang secara perlahan ikut meningkatkan peran Amerika di kancah dunia.

2.3 Amerika dalam Perang Dunia I
Keterlibatan Amerika dalam politik internasional dalam politik internasional semakin menigkat sejak Amerika dipaksa terlibat dalam Perang Dunia I. Kegagalan Inggris dan Perancis menahan serangan Jerman  membuat Amerika terlibat dalam Perang Dunia I tersebut.Perang Dunia I bermula di Eropa pada tahun1914. Amerika sendiri pada awalnya tidak ikut serta dalam perang dunia itu. Mereka merasa bahwa mereka mempunyai hak netral untuk tidak berpihak pada sisi manapun. Meskipun demikian, kedua blok dalam perang tersebut, yakni sekutu dan As, berusaha untuk mempengaruhi Amerika supaya masuk kedalam blok mereka. Namun karena keduanya yang diwakili Inggris (sekutu) dan Jerman (As) dirasa oleh Amerika melakukan kegiatan-kegiatan yang provokatif seperti memesan senjata dari Amerika dan mengganggu kapal-kapal Amerika yang berlayar di perairan bebas, maka pemerintahan Presiden Woodrow Wilson memprotes kedua pihak itu.
Pada tahun 1914, perhatian publik Amerika terutama ditujukan pada masalah dalam negeri. Sementara itu kepresidenan dikuasai oleh partai demokrat yang menyuarakan tentang “kebebasan dan emansipasi negara-negara terjajah juga Amerika sebagai negara kapitalis dan produsen. Sejak 1899, partai ini memang berjuang melawan imperalisme di dunia. Saat itu Department of State dipimpin Oleh William Jennings Bryan yang memadukan antara advokasi perdamaian dunia dengan piagam-piagam yang menentang perang dan imperalisme.
Meskipun lebih mempedulikan urusan dalam negeri, namun pertikaian antara dua kekuatan imperalis di Asia dan Eropa tidak pula diabaikan. Dua blok, aliansi Jerman, Austria, dan Turki di satu pihak dan Inggris, Prancis dan Rusia di lain pihak, mendorong pihak mereka sendiri untuk meningkatkan kekuatan bersenjata mereka dengan membebankan pajak serta harga barang-berang yang tinggi kepada warga negara mereka masing-masing. Presiden Wlson yakin bahwa bila pertikaian ini berlarut-larut, maka akan terjadi peang besar.
Pada 4 Agustus 1914, ketika perang benar-benar berkobar, Presiden Wilson mengumumkan netralitas Amerika dalam perang itu. Dua minggu kemudian, dia menyerukan rakyat Amerika agar menyebar semangat itu. “Dampak dari peperangan bagi Amerika bergantug dari apa aybg dikatakan atau yang dilakukan oleh warga negaranya. Setiap orang yang mencintai Amerika akan berbuat dan berbicara sesuai dengan semangat yang benar dari netralitas.”
Meskipun presiden telah memberikan pernyataannya, namun rakyat amerika sebenarnya banyak yang menginginkan Amerika berada di salah satu blok. Orang-orang keturunan Inggris banyak yang condong pada Triple Etente (sekutu), sementara keturunan Jerman ingin berada dalam pihak Triple Alliance (AS). Namun demikian, tidak ada yang benar- benar mengharapkan Amerika langsung ikut terjun dalam peperangan. Sebagai negara netral, Amerika mempunyai hak untuk itu yang secara historis dan meyakinkan berada dibawah hukum internasional, antara lain:
1.       Negara netral bisa menjual barang-barangnya dan berdagang persenjataan maupun barang-barang lainnya dengan negara yang sedang berperang.
2.      Negara yang sedang berperang dapat menekan perdagangan ini dengan saling blokade untuk menghentikan iriingan kapal yang membawa barang-barang tersebut, namun blokade harus efektif yakni dengan sejumlah kapal perang untuk patroli.
3.      Jika kapal dagang dari negara netral atau musuh berlayar dan tertangkap, maka boleh dimiliki dan diambilalih dalam keadaan tertentu namun tidak boleh ditenggelamkan atau dirusak sehingga membahayakan keamanan awak dan penumpangnya .
Dibawah hukum itu dan kebijakan Amerika Serikat, hal ini menjadi tugas bagi Presiden Wilson dalam perdagangan sebagai negara netral. Ia juga harus menghadapi keluhan tentang kekerasan terhadap negara netral dari negara-negara yang berperang.
Pemerintah Inggris membuat dua keputusan setelah Amerika menyatakan netralitasnya.Inggris menyatakan blokade baja di pelabuhan Central Powers dan mengawasi barng dari negara netral yang masuk darinya. Namun gangguan dari kapal-kapal selam Jerman membuat blokade ini tidak efektif namun Inggris menyatakan bahwa blokadenya telah efektif.
Aksi-aksi Inggris tersebut telah mengganggu hak Amerika sebagai negar yang netral. Inggris terus menangkapi dan menahan kapal-kapal Amerika yang berada disekitar wilayah perairan negara-negara netral seperti Belanda Denmark dan Swedia saat menuju ke Jerman. Inggris menuduh bawa Jerman telah menebar ranjau di lautan Utara yang diklaim oleh Inggris. Atas keputusan itu State Department di Washington memprotes bahwa Kebijakan Inggris tersebut bertentangan dengan hukum.

2.4Akhir Perang Dunia I
Perang Dunia I berakhir dengan kekalahan Jerman dilanjutkan dengan perjanjian perdamaian antara negara yang kalah perang terhadap negara-negara sekutu yaitu seperti Perjanjian Versailles antara Jerman dengan negara sekutu pada tanggal 28 Juni 1919 dimana dalam perjanjian tersebut Jerman harus menanggung semua beban biaya perang.
Pemeran perjanjian Versailles adalah apa yang disebut sebagai the big four yang terdiri dari Wilson (USA) Lioyd George (Inggris), Orlanda (Italia) dan Clemenceai (Perancis). Walaupun perjanjian peradamaian telah dilaksanakan sebagai akhir dari perang dunia ini tetapi dampak dari perang tersebut sangat dirasakan oleh negara-negara di seluruh dunia khususnya negara Eropa dan Amerika.
Pada tahun 1918, Perang Dunia I akhirnya berakhir, setelah empat tahun serangan tanpa guna di tangan tentara Jerman, Prancis, dan Inggris. Namun perdamaian ini, yang dinyatakan pada jam 11 pagi, hari kesebelas dari bulan kesebelas, tidak membawa kebahagiaan untuk siapa pun. Ratusan ribu serdadu menjadi cacat. Sebagian lainnya terbukti tidak mampu mengatasi dampak kejiwaan karena perang setelah tinggal di dalam parit yang penuh dengan lumpur, kotoran, dan mayat. Bentuk trauma yang dikenal sebagai “shell shock” atau “kejutan bom” sangat umum di antara para veteran perang, dan hal ini menyebabkan penderitanya mengalami serangan ketakutan dan goncangan yang berat. Rasa takut akan dibom, yang mereka alami setiap hari selama empat tahun berturut-turut, telah terukir di benak mereka.
Ada beberapa penderita yang merasa harus segera bersembunyi hanya karena kata 'bom' disebutkan. Beberapa veteran bahkan merasa ngeri setiap kali mereka melihat seragam. Puluhan ribu serdadu juga kehilangan satu atau lebih anggota badannya dalam perang ini. Serdadu ini adalah tentara yang mata, dagu, atau hidungnya menjadi cacat selama pengeboman, sehingga topeng khusus diciptakan di Eropa untuk menyembunyikan wajah mereka yang cacat.
Setelah berakhirnya perang dunia, maka cita-cita untuk menciptakan perdamaian yang abadi dengan melenyapkan perang dari muka bumi, selalu timbul setelah orang mengalami kengerian peperangan besar. Hal tersebutlah yang mendorong berdirinya Liga Bangsa Bangsa (Leahue of Nations). Dimana LBB ini merupakan gagasan dari presiden USA yaitu Woodrow Wilson. Beliau mengusulkan suatu konsep perdamaian yang disebut dengan "Peace Without Victory". Ide untuk mendirikan LBB dicetuskan Presiden Amerika Serikat Woodrow Wilson meskipun AS sendiri kemudian tidak pernah bergabung dengan organisasi ini. Sejumlah 42 negara menjadi anggota saat LBB didirikan. 23 di antaranya tetap bertahan sebagai anggota hingga LBB dibubarkan pada 1946. Antara 1920-1937, 21 negara masuk menjadi anggota, namun tujuh di antara keduapuluh satu anggota tambahan ini kemudian mengundurkan diri (ada yang dikeluarkan) sebelum 1946.

2.5 Latar Belakang Penyebab Amerika Terlibat Perang Dunia II
Pengeboman Pearl Harbour oleh Jepang, pada tanggal 8 desember 1941 telah membawa Amerika kepada perang dunia ke II di daerah pasifik. Pengeboman ini dilakukan. kala itu angkatan laut Jepang menyerang markas AL Amerika secara tiba-tiba di Hawai.Dampak serangan ini rusak dan tenggelamnya kurang lebih 20 buah kapal tempur Amerika, 188 pesawat terbang rusak dan 2.403 korban jiwa. Dipihak Jepang hanya kehilangan 55 buah pesawat tempur dari 441 pesawat yang dipakai.
Tembakan Amerika pertama dilepaskan pada perang dunia II dan korban pertama serangan Pearl Habor sebenarnya terjadi saat USS Ward menyerang dan meneggelamkan kapal selam kerdil Jepang.Dari semuanya 29 musnah dalam pertempuran. Strategi yang digunakan angkatan Jepang berlayar ke arah Pearl Harbour tanpa pemberitahuan sampai saat-saat terakhir. Tujuan serangan Pearl Habour adalah melumpuhkan Angkatan Laut Amerika di Pasifik, walaupun untuk sementara. Rancangan untuk serangan Pearl Harbor untuk menyokong kelanjuta ketentaraan lanjut bermulai pada jaanuari 1941, dan latihan untuk misi berlangsung pada pertengahan tahun saat proyek ini dianggap layak.
Sebagian dari rancangan Jepang untuk serangan ini termasuk memutuskan perundingan dengan Amerika sebelum serangan tersebut.Serangan ke atas Pearl Harbor merupakan malapetaka strategis bagi Jepang.Presiden F.D Roosevelt menandatangani Deklarasi perang terhadap Jepang pada hari berikutnya selepas serangan. Kemungkinan yang paling penting, serangan Peearl Haarbor bertindak sebagai katalisator yang menggerakkan sebuah negara untuk bertindak serta merta yang tidak mungkin dapat dilakukan oleh perkara lain.
Pada tanggal 8 Desember 1941 Kongres Amerika serikat menyatakan perang atas Jepang. Pemerintah Amerika serikat meneruskan pengerahan tentara dan mulai beralih kepada ekonomi perang. Permasalahan tekhnis adalah kenapa Jerman Nazi menyatakan perang atas AS pada 11 Desember 1941 sejurus selepas serangan Jepang. Hitler tidak perlu melakukannya di bawah syarat blok poros, tetapi tetap melakukannya. Ini pasti menggandakan kemarahan penduduk Amerika dan membenarkan Amerika untuk memberikan bantuannya kepada Britania Raya. Meskipun berhasil menenggelamkan kapal induk Amerika, tidak membantu Jepang dalam jangka panjang. Karena serangan tersebut membuat Amerika terlibat penuh dalam perang dunia Ke II, mendorong kekalahan blok poros sedunia.saat mendengar bahwa serangan Jepang atas Pearl Harbour akhirnya yang membuat pihak Amerika terlibat dalam perang dunia ke II.


2.6 Proses Jalannya Perang Dunia II
Negara dengan cepat melakukan mobilisasi rakyat dan seluruh kapasitas industrinya. Pada tanggal 6 Januari 1942, Presiden Roosevelt mengumumkan target produksi yang mengejutkan.Di bawah serangkaian peraturan wajib militer, Amerika Serikat menjadikan angkatan bersenjatanya punya berkekuatan total 15.100.000. Pada akhir 1943, sekitar 65 juta pria dan wanita menjadi tentara atau bekerja di bidang yang berhubungan dengan perang.
Serangan ke Amerika Serikat melumpuhkan daya tarik kaum isolasionis dan mobilisasi militer pun bisa dilakukan yang cepat. Namun, akibat serangan Pearl Harbour dan ketakutan akan kegiatan spionase Asia, Amerika juga melakukan tindakan antitoleransi yaitu menawan orang-orang Amerika keturunan Jepang.Hampir 63 persen warga Jepang-Amerika adalah Nisei, lahir di Amerika, dan dengan sendirinya adalah warga Negara Amerika Serikat. Tidak ada bukti kegiatan spionase yang bisa dimunculkan. Bahkan, warga keturunan Jepang-Amerika dari Hawaii dan daratan Amerika Serikat lainnya ikut bertempur dengan gagah berani dalam dua satuan infanteri di Italia.Tak lama setelah Amerika Serikat ikut berperang, Sekutu barat memutuskan untuk memusatkan upaya militer mereka di Eropa, di mana pusat kekuatan musuh berada, sementara wilayah Pasifik dinomorduakan. Pada musim semi dan panas tahun 1942, tentara Inggris bisa menahan masuknya Jerman ke Mesir dan menekan Jenderal Jerman Erwin Rommel untuk mundur ke Libya sehingga lenyaplah ancaman Terusan Suez, yang menhubungkan Laut Tengah dan Laut Merah.
Tanggal 7 November 1942, tentara Amerika mendarat di Afrika utara jajahan Perancis, dan setelah pertempuran habis - habisan, berhasil menimpakan kekalahan besar kepada tentara Italia dan Jerman. Tahun 1942 juga merupakan titik balik di Medan Tempur Timur, dimana Uni Soviet dengan kerugian luar biasa berhasil menghentikan invasi Nazi di gerbang Leningrad dan Moskow serta dapat mengalahkan pasukan Jerman di Stalingrad.
Pada bulan Juli 1943, pasukan Inggris dan Amerika menduduki Sisilia dan akhir musim panas, pesisir selatan Laut Tengah dibersihkan dari kekuatan Fasis. Pasukan Sekutu mendarat di Italia dan meskipun pemerintah Italia menyerah tanpa syarat, pertempuran melawan tentara Nazi di Italia berlangsung sengit dan berlarut-larut.Pada akhir 1943, tentara Sekutu setelah melakukan perdebatan panjang mengenai strategi, memutuskan untuk membuka medan tempur Barat untuk memaksa Jerman mengalihkan lebih banyak tentaranya dari medan tempur Rusia. Jenderal Amerika Serikat, Dwight D. Eisenhower ditunjuk sebagai Panglima tertinggi Sekutu di Eropa. Setelah melalui persiapan luar biasa, pada tanggal 6 Juni 1944 rombongan pertama invasi tentara Amerika Serikat, Inggris dan Kanada yang dilindungi angkatan udara yang hebat, mendarat di pantai Normandia di utara Perancis.Sementara itu, tentara Amerika Serikat bergerak maju di Pasifik. Walau pasukan Amerika Serikat dipaksa menyerah di Filipina pada awal 1942, tentara Sekutu menyerang pada bulan-bulan berikutnya. Pada bulan April, Jenderal James Doolittle memimpin pasukan pengebom Amerika Serikat menyerang Tokyo.
Pertempuran lain-lain juga menyumbang kesuksesan Sekutu. Guadalcanal, sebuah kemenangan yang menentukan untuk Amerika Serikat, manandai aksi ofensif pertama Amerika Serikat di Pasifik selama dua tahun berikutnya, pasukan Amerika dan australia yang mencari jalan untuk bergerak ke arah utara kepulauan Pasifik, berhasil menguasai Kepulauan Solomon, Gilbert, Marshall, Mariana, dan Bonin melalui serangan amfibi.
Perang di Pasifik terus berlanjut setelah Jerman menyerah, dan pertempuran-pertempuran pamungkas di Pasifik terhitung paling dasyat. Pada awal Juni 1944, Pertempuran Laut Filipina meluluhlantakan Angkatan Laut Jepang. Jenderal Douglas MacArthur yang dua tahun sebelumnya dengan enggan meninggalkan Filipina agar tidak ditangkap Jepang. Mereka datang kembali untuk melancarkan Angkatan Laut Amerika Serikat.
Pada bulan Februari 1945, tentara Amerika Serikat telah mengambil alih Manila. Amerika Serikat mengincar Pulau Iwo Jima di Kepulaun Bonin, yang terletak di tengah-tengah antara Kepulauan Mariana dan Jepang.Pengeboman Amerika Serikat mendapat perlawanan keras Jepang di darat dan serangan bunuh diri kamikaze di udara. Pasukan Amerika Serikat merebut pulau tersebut pda pertengahan Maret, namun harus kehilangan 6.000 nyawa marinirnya, sementara itu hampir seluruh tentara Jepang tewas. Sejak saat itu Amerika Serikat memulai serangan udara besar -besaran ke pelabuhan dan bandara di Jepang.Kepala pemerintahan Amerika Serikat, Inggris, dan Soviet bertemu di Postdam, sebuah daerah di pinggir kota Berlin, mulai 17 Juli hingga 2 Agustus 1945 untuk membahas operasi melawan Jepang, kesepakatan damai di Eropa, dan kebijakan untuk masa depan Jerman.Sekutu mengumumkan Deklarasi Postdam pada tanggal 26 Juli, menjanjikan tidak akan mengahncurkan atau memperbudak Jepang bila mereka menyerah. Namun, bila tidak Jepang akan menjumpai kehancuran total.
Tanggal 6 Agustus, pesawat Amerika Serikat, Enola Gay menjatuhkan bom atom ke kota Hiroshima. Tanggal 8 Agustus 1945, bom atom kedua dijatuhkan kali ini di Nagasaki. Bangsa Amerika lega karena bom tersebut mempercepat proses berakhirnya perang.Tanggal 14 Agustus, Jepang menyetujui syarat-syarat yang ditetapkan Postdam. Tanggal 2 September 1945, Jepang secara resmi menyerah. Pada bulan November 1945 di Nurenberg, Jerman, pengadilan pidana para pemimpin Nazi yang diusulkan di Postdam berlangsung. Di hadapan para juri terkemuka dari Inggris, Perancis. Uni Soviet dan Amerika Serikat para pemimpin Nazi ini tak hanya didakwa merencanakan dan mengobarkan peran, tetapi juga melanggar hukum perang dan kemanusiaan dengan genosida yang sistematis, yang dikenal dengan Holocaust, terhadap Yahudi Eropa dan kelompok- kelompok lainnya.
Salah satu keputusan paling jauh jangkauannya mengenai bentuk dunia pascaperang terjadi pada tanggal 25 April 1945, menjelang berakhirnya perang di Eropa, walau konflik masih berkecamuk di Pasifik. Perwakilan dari 50 negara bertemu di San Francisco, California untuk mendirikan kerangka kerja PBB. Konstitusi yang mereka rancang menggambarkan garis besar organisasi dunia di mana perbedaan – perbedaan internasional dapat dibicarakan secara damai, serta adanya tekad bersama memerangi kelaparan dan penyakit. Sangat berbeda dengan penolakannya terhadap keanggotaan Amerika Serikat di Liga Bangsa – Bangsa setelah Perang Dunia I, Senat Amerika Serikat langsung meratifikasi Piagam PBB dengan suara 89 berbanding 2. Langkah ini memastikan akhir semangat menutup diri sebagai elemen dominan kebijakan luar negeri Amerika dan memberi isyarat kepada dunia bahwa Amerika Serikat beniat mengambil peran penting dalam urusan internasional.
Umumnya dapat dikatakan bahwa peperangan dimulai saat Jerman menginvasi Polandia pada tanggal 1 September 1939, dan berakhir pada tanggal 14 Agustus 1945 pada saat Jepang menyerah kepada tentara Amerika Serikat. Secara resmi PD II berakhir ketika Jepang menandatangani dokumen Japanese Instrument of Surrender di atas kapal USS Missouri pada tanggal 2 September 1945, 6 tahun setelah perang dimulai.

2.7 Dampak Perang Dunia II Bagi Amerika
2.3.1 Bidang Politik
Kemenangan pihak sekutu (Inggris, Perancis, Amerika Serikat, dan Uni Soviet) dalam mengakhiri Perang Dunia II tidak terlepas dari peran Amerika Serikat dalam memberikan bantuan (perlengkapan, tentara,dan persenjataan) yang mampu mempercepat berakhirnya perang dengan kemenangan di tangan Sekutu. Perang Dunia II telah menghancurkan hegemoni negara-negara besar seperti Inggris, Perancis, Spanyol, dan Portugis yang sudah berabad-abad memegang kendali kekuasaan di berbagai belahan dunia.
Muncul masalah baru yaitu adanya pertentangan kepentingan dan persaingan perebutan hegemoni antara negara anggota sekutu dalam usaha untuk menjadi negara yang paling berpengaruh dan berkuasa di dunia hingga melahirkan dua negara adikuasa (kekuatan raksasa) yaitu Amerika Serikat (kuat secara material) dan Uni Soviet (kuat secara psikologis) yang mengambil alih hegemoni tersebut. Uni Soviet dan Amerika Serikat saling berlomba menanamkan penagruhnya pada negra lain dengan berbagai cara sehinga dampaknya negara-negara di dunia terbagi menjadi 2 dimana negara-negara Eropa Timur, Jerman Timur dan beberapa negara Asia seperti Cina, Korea Utara, Kamboja, Laos dan Vietnam berada dibawah pengaruh Uni Soviet yang selanjutnya dikenal dengan Blok Timur. Sementara negara-negara Eropa Barat dan banyak negara di Asia, Afrika, dan Amerika Latin berada dibawah kekuasaan Amerika Serikat yang selanjutnya dikenal dengan Blok Barat.
Kedua negara adikuasa tersebut memiliki ideologi yang berlawanan dimana Amerika Serikat dengan ideologi Liberalis-Kapitalis (paham yang mengutamakan kemerdekaan individu sebagai pangkal dari kebaikan hidup) sementara Uni Soviet dengan ideologi Sosialis-Komunis(paham yang menghendaki suatu masyarakat disusun secara kolektif agar menjadi masyarakat yang bahagia). Sistem politik dan ekonomi internasional mengalami polarisasi yaitu liberalisme versus sosialisme-komunisme .Munculnya politik memecah belah dimana terjadi perpecahan dari berbagai negara sebagai dampak dari persaingan pengaruh dua negara adikuasa tersebut, seperti negara Jerman, Korea, dan Vietnam(Indo Cina) berdasarkan ideologi liberal dan sosialis-komunis.
Dibentuklah pakta pertahanan untuk saling mengimbangi kekuatan lawan dimana Amerika Serikat membentuk NATO (North Atlantic Treaty Organization) atau Organisasi Pertahanan Atlantik Utara sementara Uni Soviet membentuk Pakta Warsawa(1955) dengan anggota Uni Soviet, Albania, Bulgaria, Cekoslowakia, Jerman Timur, Hongaria, Polandia, dan Rumania. Berdirinya pakta pertahanan memunculkan rasa saling curiga dan perlombaan persenjatan antara kedua belah pihak sehingga menimbulkan Perang Dingin.

2.3.2 Dampak Ekonomi
Perang Dunia 2 menghancurkan perekonomian negara - negara di dunia kecuali Amerika Serikat. Amerika Serikat menjadi pusat kekayaan dan kreditur dari seluruh Dunia. Amerika Serikat memanfaatkan keadaan dimana banyak negara yang membutuhkan bantuan ekonomi untuk memperbaiki negaranya (dengan menanamkan pengaruhnya) jika tidak maka negara-negara tersebut akan masuk dalam pengaruh kekuasaan ideologi komunis Uni Soviet. Maka Amerika tampil sebagai negara kreditor bagi negara-negara di luar pengaruh Uni Soviet. Dengan bantuan tersebut selanjutnya mampu membuat kedudukan Amerika menjadi kuat sebab ia berhasil menciptakan ketergantungan negara peminjam pada Amerika. Amerika Serikat akhirnya mengeluarkan beberapa program untuk membangun kembali perekonomian dunia, seperti:
A.  Marshall Plan merupakan program untuk membantu perekonomian negara-negara Eropa Barat. Program ini disetujui dalam konfrensi Paris 1947 dan pemberian bantuan ini diakhiri pada tahun 1951. Sebuah negara dapat memperoleh bantuan ini dengan memenuhi kesepakatan sebagai berikut.
1)      Amerika Serikat akan memberikan pinjaman jangka panjang kepada negara-negara Eropa Barat untuk membangun kembali perekonomiannya.
2)      Sebagai imbalan negara peminjam diwajibkan :
a)      Berusaha menstabilkan keuangan masing-masing negara dan melaksanakan anggaran pendapatan yang berimbang.
b)      Mengurangi penghalang-penghalang yang menghambat kelancaran perdagangan antara negara-negara peminjam.
c)      Mencegah terjadinya inflasi.
d)     Menempatkan perekonomian negara masing-masing negara atas dasar sendi-sendi perekonomian yang sehat.
e)      Memberikan bahan-bahan yang diperlukan Amerika Serikat untuk kepentingan pertahanan.
f)       Meningkatkan persenjataan masing-masing negara untuk kepentingan pertahanan.
g)      Bantuan akan dihentikan apabila di negara peminjam terjadi pergantian kekuasaan yang mengakibatkan negara tersebut melaksanakan paham komunis.
Dengan Marshall Plan maka tertanamlah dasar-dasar terbentuknya kerjasama yang erat antara negara-negara Eropa Barat dalam pembangunan perekonomiannya. Sejak tahun 1951 maka Amerika Serikat lebih mengutamakan konsolidasi pertahanan terhadap kemungkinan meluasnya paham komunis.
B.  Doctrine Truman merupakan kebijakan untuk membantu secara khusus negara Yunani dan Turki dengan maksud membendung kedua negara tersebut dari pengaruh komunis dan Uni Soviet serta memerangi pemberontakan yang dilancarkan gerilyawan-gerilyawan komunis dalam negeri.
C.  Point Four Program merupakan program bantuan dalam bentuk perlengkapan ekonomi kepada negara-negara berkembang. Serta bantuan militer yang diberikan pada negara-negara berkembang khususnya Asia.
D.  Colombo Plan merupakan program kerjasama bagi pembangunan ekonomi di Asia Selatan dan Asia Tenggara. Program yang dicetuskan di Colombo 1951 dengan peserta pertama negara-negara persemakmuran Inggris yang selanjutnya diikuti Amerika Serikat, Jepang, dan beberapa negara Asia Tenggara lainnya.

2.3.3 Bidang Sosial
Semakin kuatnya kedudukan golongan cerdik pandai (para ilmuwan)
Munculnya gerakan sosial untuk membantu memulihkan kesejahteraan rakyat yang porak-poranda akibat perang dengan mendirikan lembaga internasional untuk memelihara perdamaian dunia. Hal ini terwujud dengan berdirinya Perserikatan Bangsa-bangsa (United Nations).
Amerika Serikat membentuk badan guna menghindari jatuhnya korban lebih banyak dengan nama United Nations Relief Rehabilitation Administration (UNRRA). Tugas pokok badan ini adalah meringankan penderitaan dan memulihkan daya produksi rakyat yang tinggal di daerah bekas pendudukan Jerman. Bantuan yang diberikan berupa makanan, pakaian, bibit tanaman, hewan ternak, alat-alat perindustrian, dan rumah sakit. UNRRA (satu bagian dari PBB) dibubarkan sebab tugas untuk memberikan bantuan pembangunan kembali negara Eropa telah dilaksanakan oleh European Reconstructions Plan atau yang dikenal dengan Marshall Plan.






BAB 3. PENUTUP

3.1  Simpulan
Pada awal berdirinya, Amerika melakukan politik netralitas terhadap perpolitikan Eropa. Amerika yang mengedepankan asas demokrasi  memandang manusia mempunyai hak dalam menentukan nasibnya sendiri, setiap individu bebas mengutarakan pendapat serta menentukan nasibnya sendiri. Pengalaman sebagai koloni di bawah kekuasaan Inggris membentuk watak demokrasi Amerika Serikat.Ucapan Presiden Monroe yang terkenal dengan doktrin Monroe menyatakan bahwa politik Amerika Serikat netral terhadap permasalahan politik di Eropa.Doktrin Monroe merupakan tuntutan untuk tidak saling menyerang atas negara-negara Eropa di belahan bumi Barat.
           Politik netralitas Amerika Serikat berjalan pasca kemerdekaan hingga beberapa masa sebelum berkecamuk perang di Eropa.Amerika Serikat menjalankan asas kebebasan tanpa mencampuri urusan politik Eropa, netralitas dimaksudkan agar Amerika Serikat tidak terkungkung dalam urusan ekonomi terhadap salah satu pihak yang bersengketa.Politik netralitas bermaksud agar ekonomi Amerika Serikat bebas berhubungan dengan negara manapun.Posisi netral Amerika Serikat akhirnya berubah saat Perang Dunia I berkecamuk di Eropa. Amerika yang pada awalnya masih mempertahankan kenetralan akhirnya ikut campur dalam Perang dengan memihak kepada blok sekutu Inggris dan Perancis menghadapi Jerman. Keikutcampuran Amerika Serikat dalam perang banyak disebut disebabkan oleh gangguan Jerman terhadap perdagangan Amerika Serikat.Kapal selam Jerman mulai menenggelamkan niaga Amerika dengan penumpang-penumpang sipil diatasnya.
            Keikutsertaan Amerika Serikat dalam Perang Dunia I mempererat hubungannya dengan negara-negara Eropa Barat, khususnya sekutu utama Amerika Serikat adalah Inggris dan Perancis. Hubungan tersebut berlanjut ketika Perang Dunia II berkecamuk, Amerika Serikat memihak blok sekutu Inggris dan Perancis menghadapi Nazi Jerman di bawah Adolf Hitler.

3.2 Saran
Adanya analisa mengenai salah satu faktor penyebab terjadinya Perang Dunia II yaitu perundingan-perundingan yang dibuat pada akhir Perang Dunia I,yang menimbulkan masalah-masalah baru,salah satu nya perlombaan senjata,serta tidak patuhnya negara fasis pada perundingan yang telah dibuat untuk menciptakan perdamaian dunia setelah perang dunia I.




DAFTAR PUSTAKA

Anugrah,Michelle. 2005. Garis Besar Sejarah Amerika Serikat. Biro Program         Informasi Internasional. Departemen Luar Negeri A.S
http://maswardy07.blogspot.com/ james-monroe.html


 

0 komentar:

Posting Komentar