
KEDATANGAN BANGSA BARAT
DI AMERIKA
disusun
guna memenuhi tugas mata kuliah Sejarah Amerika
Oleh:
Maftuhin (120210302047)
PROGRAM
STUDI PENDIDIKAN SEJARAH
JURUSAN PENDIDIKAN ILMU
PENGETAHUAN SOSIAL
FAKULTAS
KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS
JEMBER
TAHUN 2014
ZAMAN KOLONISASI EROPA DI
AMERIKA
Seperti telah dijelaskan pada Bab I penduduk asli benua Amerika berasal dari Asia yang
menyeberang Selat Bering, selat yang
memisahkan antara benua Asia dan Amerika Kelompok rnigran awal yang datang dalam waktu yang
berbeda-beda tersebut mencari makanan, tempat hidup dan ildim
yang lebih baik
untuk
menetap.
Di
tempat baru,
mereka membangun
pemukiman sambil mengembangkan kebudayaan baru
sesuai dengan lingkungan hidupnya di berbagai belahan benua Amerika. Di Selatan, mereka menjadt bangsa Aztek di Meksiko, bangsa
Maya
di
Amerika
Tengah
dan bangsa Inca di Peru
serta mengembangkan
pemerintahan imperium yang dikuasai oleh segolongan aristokrat. Di Amerika Utara, mereka mengembangkan
hidup nomaden, atau berpindah-pindah
sambil berburu binatang, mengumpulkan makanan dan
menggunakan alat-alat
dari
batu.
Pertemuan langsung antara bangsa Eropa dengan penduduk asli Amerika tersebut terjadi ketika sekelompok
penjelajah
Norwegia (Norsemen) yang telah mencapai Greenland mendarat di Vinland, Amerika Utara pada awal abad ke-11. Penjelajan yang
dipimpxn oleh Lcif Ericson
(Eric's son, Leif, anak laki-laki Eric bernama Leif) tidak memiliki dampak bagi masyarakat
Eropa terutama penjelajah untuk memanfaatkan peingalamannya dalam petualangan di Amerika.
Demikian
juga dengan penduduk Indian, tidak memperoleh pengaruh
apapun dari penjelajahan
tersebut. Namun demikian, setelah penjelajahan Eric
tersebut penjelajah
Eropa menyusulnya dengan menemukan
beberapa kawasan baru di Amerika.
Pada
tanggal 12 Oktober 1492
salah seorang anggota
penjelajah dari Spanyol yang
dipimpin oleh
Christopher Columbus,
navigator
Italia, melihat sebuah pulau
di kawasan
Amerika yang
kemudian dikenal dengan
San
Salvador. Setelah
mendarat sebentar, Columbus
bcrtemu dengan sekelompok penduduk
asli yang kemudian dikenalnya
dengan Indian. Sebutan tersebut didasarkan
atas keyakman
bahwa San Salvador
adalah East
Indies (Indian Timur) sebagai daerah yang
dijadikan tujuan penjelajahannya. Sebutan Indian terhadap semua penduduk
Amerika tersebut menyebar
ke seluruh Eropa Barat sehingga
semua penjelajah Eropa menyebut
semua penduduk asli Amerika itu sebagai orang-orang Indian.
Setelah kedatangan Columbus tersebut, ribuan
penjelajah Eropa
menyusulnya
dan mendarat serta
bermukim
di
berbagai
kawasan Amerika yang
disebutnya sebagai New World atau dunia (daerah) baru, sebagai sebutan yang
sangat Eropa sentris. Bagi penduduk asli Amerika daerah tersebut tidak baru lagi sebab mereka sudah bermukim di kawasan tersebut selama
ribuan tahun.
Timbulnya penjelajahan orang-orang
Eropa ke Amerika tidak bisa dilepaskan dari
perkembangan sejarah Eropa. Antara abad ke 11 sampai 13 penduduk Eropa yang
beragama Kristen secara periodik mengunjungi daerah Laut Tengah untuk menemukan kembali kota suci
dari penguasa Muslim. Penjelajahan yang
terjadi dalam konteks Perang Salib tersebut
berpengaruh
terhadap diperkenalkannya rempah-rempah dari Timur yang didatangkan oleh para pedagang Islam ke Eropa. Pasca Perang
salib, rempah-rempah merupakan komoditi yang sangat
berharga dan dapat mendatangkan keuntungan finansial yang
berlipat ganda bagi mereka yang
memperdagangkannya. Oleh karena itu,
orang-orang
Eropa, terutama
Portugis, Spanyol, Belanda dan Inggeris berusaha mencari
jalan alternatif ke daerah sumber penghasil rempah-rempah tersebut. Setelah
adanya
dominasi
perdagangan oleh orang-orang Italia
di laut Tengah
dan
setelah jatuhnya
Konstantinopel, ibukota Romawi
Timur ke tangan Turki
Usmania yang
beragama Islam tahun
1453,
usaha mencari rempah-rempah dan penjelajahan dunia semakin intensif. Demikian juga dengan adanya renaissance di
Italia abad ke-15 yang dipelopori oleh
para intelektual berusaha mempertanyakan kembali hakekat penjelajahan dalam aspek invention, discovery dan
dunia baru bagi keunggulan individu dan keunggulan umat manusia.
Penjelajahan Bangsa
Portugis
Eksplorasi yang sistematis terhadap
"dunia
baru"
Amerika dilakukan
oleh
bangsa Portugis yang dipimpin oleh Pangerah Henry atau Prince Henry
(1394-1460). Henry berambisi untuk
mengembangkan kejayaan Portugal dan oleh karena itu mendorong
setiap penjelajah
Portugal untuk melakukan penjelajahan dan menemukan rute baru ke kawastin yang kaya akan rempah-rempah, emas dan
perak. Melalui kepeloporan Henry,
bangsa Portugis memperoleh emas dari Afrika dan menjadikan jalur Portugal
dan pantai Afiika Barat sebagai jalur perdagangan mereka. Sejak tahun 1500 bangsa-bangsa
Eropa
lainnya memperoleh emas dari Lisabon
sebagai pusat perdagangan emas
di Eropa.
Pada tahun 1487 Bartholomew Diaz mencapai
ujung selatan Afrika Selatan. Setelah mencapai Tanjung Harapan, Diaz kembali ke Portugal. Penjelajahan ini kemudian diteruskan
oleh seorang marinir Portugal bernama Vasco da Gam a Dalam ekspedisi ketlua (1497-1499), Vasco da
Gama mencapai pelabuhan-pelabuhan India,
dan
sekembalinya
ke Lisabon dia membawa barang-barang yang
sangat berharga di pasaran Eropa. Melihat banyaknya barang- barang dagangan yang
dibawa Diaz, raja Spanyol, Manuel (1495-1521) mengirimkan 13 kapal baru
ke India
dibawah pimpinan Pedro AJvares Cabral. Tujuannya adalah
mendirikan pangkalan dagang di
pelabuhan-pelabuhan India.
Pelabuhan-pelabuhan penting yang
dikuasai bangsa Portugis akhirnya diserahkan pada
kekuasaan tahta Portugal. Misalnya pelabuhan-pelabuhan di Brazil, Amerika Selatan, yang telah
dikuasai para pedagang Portugis diserahkan kepada tahta Spanyol. Demikian juga dengan
pelabuhan-pelabuhan dagang di Afiika, Jazirah Arab dan India diakui sebagai milik tahta Portugal. Ekspedisi Pedro Alvares
Cabral ke Brazil pada tanggal 22 April 1500
merintis kekuasaan bangsa
Portugis atas wilayah Amerika
Selatan. Para penguasa dan pedagang lokal di
daerah yang didatanginya dan yang tidal:
mau
tunduk
pada Portugal diserang dan
ditaklukkannya. Kota-kota pelabuhan India, seperti Calicut dan Goa dan pelabuhan Ormuz di
Iran diserangnya. Dibawah gubernur Portugal di India, Alfonso cTAlbuquerque (menjabat antara
1509-1515), kota-kota tersebut diserahkan kepada
tahta Portugal. Demikian
juga dengan pelabuhan-pelabuhan lainnya yang semula dikuasai para pedagang Islam dari Arab, India, Melayu, Maluku dan Malaka ditaklukkannya. Pelabuhan Malaka yang
sangat raniai dan strategis
di Selat Malaka direbutnya tahun 1511,
demikian juga dengan pelabuhan-pelabuhan Maluku, sebagai
pusat penghasil rempah-rempah, dikuasainya.
Dengan penguasaan langsung-daerah-daerah yang ditaklukkannya maka negara Portugal
mulai
merintis politik imperialisme, yaitu
politik untuk menjadikan daerah yang ditaklukkannya
sebagai bagian dari imperium seberang lautan Portugal, dan dikuasai langsung oleh
pemerintah
pusat di
ibukota Lisabon,
Portugal.
Portugal merupakan negara
pertama sejak jaman penjelajahan yang
menguasai daerah imperium seberang
lautan. Melalui politik imperialisme, Portugal memaksa bangsa-bangsa yang dikuasainya untuk tunduk pada aturan politik dan
ekonomi yang
dibuatnya. Dengan deniikian para pedagang yang
berada di bawah kekuasaan
bangsa Portugis
harus menyerahkan
barang
hasil produksinya dengan
harga yang ditentukan oleh mereka.
Penjelajahan
Bangsa Spanyol.
Pelayaran Christopher Columbus (1451-1506) tahun 1492 dapat ditempatkan
dalam konteks penjelajahan bangsa Eropa ke benua "baru" Amerika. Columbus yakin bahwa dia dapat
menemukan rule terpendek ke arah timur dengan cara berlayar ke arah barat menyeberangi
Atlantik. Dia menyangka San Salvador adalah India, negeri yang
kaya akan bahan rempah- rempah. Antara tahun
1492-1502 Columbus melakukan empat kali pelayaran ke Amerika
dan menemukan kepulauan Caribia. Sampai dia mati, pulau-pulau yang
didarataninya seperti Haiti, Dominica, Puerto Rico,
Jamaica, Cuba
dan
Honduras masih diyakininya sebagai India.
Melalui
rintisannya bangsa Spanyol memperoleh pengetahuan mengenai benua baru
Amerika yang
kemudian dijadikan
sebagai wilayah koloni
Spanyol. Raja Spanyol Ferdinand dan
Ratu Isabela akhirnya mensponsori penjelajahan berikutnya ke Amerika untuk menghadapi
dominasi bangsa Portugis yang telah
melakukan penjelajahan dunia.
Tindakan raja Spanyol itu menimbulkan protes
Spanyol yang menganggapnya telah
mengancam kepentingan Portugal di Amerika. Paus Alexander VI
menengahi pertentangan
tersebut dengan cara menarik garis demarkasi antara
Spanyol dan Portugal tahun 1493. Dalam
tahun 1494 kedua negara sepakat dalam Perjanjian Tordesilas bahwa Portugal akan menguasai
Brazil dan sisa benua
Amerika
oleh Spanyol. Tentu saja
perjanian
tersebut tidak berlaku bagi negara-negara lain yang juga berambisi menguasai
Amerika.
Niat untuk mencan
jalur pelayaran
ke Asia terus dilakukan
oleh
bangsa
Spanyol. Penguasa
Spanyol, Charles V,
menugaskan Ferdinad Magellan (1480-1521) untuk menemukan jalur langsung
ke kepulauan Maluku sebagai pusat penghasil rempah-rempah. Magellan berlayar ke arah barat-daya melintasi Samudera Atlantik,
dan sampai ke ujung
selatan benua Amerika.
Dari sana dia menyeberang ke
Samudera Pacifik menuju arah Barat dan sampai di kepulauan Filipina
tahun 1521 (pemberian nama kepulauan Philipina
dilakukan tahun 1560 setelah kepulauan tersebut
berada di bawah imperialisme
Spanyol atas
'nama
raja Philip II).
Di
kepulauan tersebut Magellan terbunuh.
Namun deniikian pelayaran terus dilakukan
oleh anak buahnya hingga tiba kembali di Spanyol thun 1522. Pelayaran Magellan berpengaruh besar bagi
dunia ilmu pengetahuan dan membuktikan teori Columbus bahwa
dunia ini bulat. Pelayaran ini
juga
memberi keterangan yang berharga bahwa Samudera Pasifik demikian luas dan bumi ini
lebih besar dibandingkan dengan yang selama itu dipercayai
orang,.
Penjelajahan
bangsa Spanyol ke benua Amerika diikuti
dengan penaklukan dan
kolonisasi. Hernando Cortez (1485-1547) berhasil mencapai Meksiko
dan menaklukkan kerajaan Aztec yang
dikuasai kaisar Montezuma. Sisa-sisa peradaban Aztec dihancurkannya dengan kejam. Demikian juga
dengan kerajaan Inca
di Peru dihancurkan oleh
bangsa Spanyol yang
dirintis oleh penjelajahan Francisco Pizarro (1470-1541). Daerah-daerah baru di Amerika Latin dikuasainya
dan
dijadikan sebagai bagian dari imperium Spanyol. Penaklukkan itu disusul
dengan migrasi penduduk Spanyol ke daerah yang ditaklukkannya. Pada abad ke 16 di Amerika
Selatan telah
terdapat
200.000 penduduk Spanyol.yang melakukan kolonisasi.
Peta Penjelajahan
Bangsa Eropa di Amerika:

Penjelajahan bangsa
Perancis, Belanda.
Penjelajahan bangsa Perancis ke Amerika dimulai oleh Giovanni da Verazzuno (1524)
yang menjelajah pantai Atlantik dan mencari sungai yang bisa dilayari ke arah daratan Sepulun
tahun kemudian, Jacques Cartier
mengeksplorasi Newfoundland
dan menjelajah
Sungai St. Lawrence
yang diangapnya
sebagai jalan
lintas menuju daratan China.
Dalam tahun 1608
Samuel de Champlain melakukan sebelas kali eksplorasi ke Amenka Utara dan menemukan Quebec. Daerah yang sekarang menjadi wilayah Kanada
tersebut dihuni oleh orang-orang keturunan Perancis.
Bangsa Belanda
menyusul bangsa
Portugis dan Spanyol melakukan penjelajahan dunia
termasuk ke Amenka. Para
penjelajah Belanda sudah banyak yang mendarat di kepulauan
Indonesia sejak tahun 1600-an, terutama
setelah tibanya kapal Cornelis de Houtman di Banten
tahun 1596. Pada tahun
1602
para
penjelajan dan
pedagang Belanda telah
mendirikan perserikatan dagang Belanda di Indonesia dengan nama VOC. Organisasi dagang
tersebut merupakan
alat untuk melaksanakan
kolonialisme
Belanda di Indonesia dan
Sri
Lanka.
Kolonisasi Belanda di Amerika dimulai sejak didirikannya West India Company
di Pulau
Manhattan tahun 1624 sebagai pangkalan
dagang kulit
binatang di kawasan
Amerika.
Pada
tahun
1650
organisasi
dagang Belanda
di Amerika
Selatan berhasil merebut
beberapa
pangkalan dagang Spanyol dan Portugal sehingga akhirnya organisasi itu mampu mengontrol jaringan dagang
antara Amerika dan Eropa. Belanda juga mendirikan koloni di New
Netherland. Namun demikian koloni tersebut tidak berkembang, bahkan tahun 1664 koloni
tersebut direbut
oleh
Inggeris
dan diganti
dengan nama
New
York. Belanda lebih tertarik terhadap
koloninya di Asia, Indonesia.
Latar belakang kolonisasi bangsa Ingeris
di Amerika.
Para
penjelajah Inggeris juga tidak mau ketinggalan dalam meramaikan penjelajahan dunia.
Dimulai dengan penjelajahan John Cabot (pedagang Genoa yang tinggal di London), yang
berniat berlayar ke Brazil tetapi mendarat di Canada (Newfoundland)
tahun 1497, penjelajan
Inggeris berusaha menemukan "daerah baru",
seperti
penjelajah Drake (1577-1580)
yang berhasil mengelilingi
dunia, Gilber, dan
Releigh
menjelajah daratan Amerika Utara.
Kebijaksanan politik Ingeris dalam melakukan kolonisasi di Amerika Utara sejak abad ke-16
berkaitan dengan situasi politik
di dalam negeri.
Walaupun klaim Inggeris
terhadap Amerika Utara berlangsung sejak penjelajahan John Cabot (1497), klaim tersebut tidak diikuti
dengan tindakan nyata. Pada akhir abad ke-16 Monarki Tudor telah mengubah kerajaan Inggeris sebagai kekuatan utama di Eropa yang
siap bersaing dengan negara-negara lainnya dalam
melakukan eksploitasi benua baru. Setelah keluar dari krisis monarki abad ke-15 yang
dikenal dengan "Wars of Roses"
atau perang-perang
bunga ros dalam tubuh keluarga monarki, Inggeris
memasiki abad ke-16 memperoleh pemerintahan yang kuat di dalam negeri. Tampilnya keluarga
Tudor yang
dipirnpin oleh Henry
VII
(1485-1509)
dan Henry VIII (1509-1547) ditandai
dengan upaya mempersatukan semua keluarga monarki yang
bertikai dan menyatukan kesetiaan
semua warga negara terhadap tahta kerajaan. Pada masa pemerintahannya, Henry VIII telah
dapat memperoleh kekuasaannya atas semua keluarga kerajaan, kecuali atas kekuasaan Paus di
Roma. Ketika istri pertama Henry, Catherine
of Aragon tidak melahirkan anak laki-laki sebagai
putra mahkota, Henry meminta Paus di Roma untuk membatalkan perkawinannya. Ketika Paus menolak, Henry menentang Paus dan meminta Parlemen Inggeris untuk memutuskan hubungan
dengan Gereja Katholik di Roma. Akhirnya Parlemen pada tahun 1534 sepakat untuk menghasUkan undang-undang yang
mengesahkan terbentuknya sistem gereja Inggeris yang
berada di bawah kekuasaan
Raja Inggeris.
Dengan undang-undang tersebut, Henry,
sebagai raja Inggeris
memiliki kewenangan
atas pajak yang dipungut oleh gereja serta
tanah yang
dikuasainya. Peristiwa tersebut merupakan saluran bagi terbentuknya reformasi gereja dan
protestanisme di Inggeris.
Setelah memperoleh kekuatan politik di dalam negeri, Henry
berusaha meningkatkan kekuatan ekonomi dalam negeri melalui perdagangan luar
negeri. Sistem pemagaran tanah atau enclosure
telah mampu meningkatkan produktifitas pertanian dan peternakan sehingga
mampu meningkatkan ekonomi Inggeris melalui ekspor wool dan
hasil pertanian.
Sistem tersebut juga telah menguntungkan golongan tuan tanah dan para pedagang Namun demikian, akibat dari sistem tersebut telah banyak petard yang kehilangan lahan garapannya dan meningkarnya urbanisasi.
Antara tahun 1560-1625 penduduk Inggeris telah meningkat tiga
kali lipat sehingga
menimbulkan kesan pada pemerintah dan warga Inggeris bahwa
kota-kota besar mereka telah berpenduduk terlalu banyak (overpopulated). Untuk mengatasinya, pemerintah Inggeris berusaha
mencari daerah
koloni baru sebagai tempat tinggal warganya.
Amerika sebagai
benua baru merupakan pilihan utama untuk tujuan itu. Kaum migran yang
dikirim Inggeris diharapkan akan
mampu meningkatkan produktifitasnya untuk kepentingan ekonomi kerajaan Inggeris, seperti halnya telah
dilakukan oleh bangsa Spanyol di New Spain,
Amerika.
Dalam merealisasikan
tujuan itu,
Ingeris harus bersaing
dengan Spanyol.
Setelah mendapat laporan dari Richard Hakluyt, seorang pendukung kolonisasi Inggeris di Amerika yang
menyatakan bahwa Spanyol merupakan ancaman utama
bagi kepentingan kolonisasi Inggeris di
benua baru tersebut, Inggeris mulai meninjau
hubungan persahabatannya dengan Spanyol. Pada masa
pemerintahan Elizabeth I
(1558-1603) hubungan Inggeris dan Spanyol putus yang disebabkan oleh putusnya hubungan gereja Inggeris dengan Roma dan
dukungan Inggeris
terhadap gereja Protestan Belanda dalam melawan gereja Katholik
Spanyol.
Pada tahun 1560-an, John Hawkins merebut sejumlah pangkalan dagang Spanyol di
kepulauan Caribia dan menjual budak-budak Afiika
terhadap pengusaha
perkebunan di kawasan
itu.
Saudara sepupu Hawkins, Francis Drake juga merebut West Indies Spanyol tahun 1570-an. Antara
tahun 1577-1580, Drake merebut kapal Spanyol yang bermuatan emas di kawasan Pasifik
dan
mendirikan Calofonu'a. Sedangkan perusahaan Cathay membiayai perjalanan Martin
Frobister (1576-1578)
untuk
mengeksplorasi daerah Kanada.
Keberhasilan
para
penjelajah Ingeris
di Amerika terhadap kedudukan
Spanyol tersebut mendorong Inggeris untuk mengintensifkan kolonisasinya atas Amerika Utara. Atas dukungan pemerintah Inggeris, Sir
Humprey Gilbert (1539-1583) berhasil mendaratkan 200 pemukim potensial di Newfoundland tahun 1583 dan diteruskan oleh sudara tirinya, Sir Walter Raleigh (1552-1618) yang mendirikan
koloni Virginia atas penghargaan terhadap ratu Elizabet I yang
masih virgin atau perawan.
Sedangkan upaya untuk
mendirikan koloni di Pulau Roanoke gagal setelah tahun
1590 diketahui bahwa semua
pemukim di sana telah
musnah yang sampai
sekarang tidak diketahui penyebabnya.
Kegagalan dalam
mendirikan
beberapa koloni di Amerika Utara
dijadikan bahan pelajaran oleh Ratu Elizabeth I. Pertama, keberhasilan kolonisasi tergantung
pada sumber pertanian agar para pemukim tidak tergantung pada orang-orang Indian. Kedua; kaum kolonis
harus memelihara hubungan langsung dengan negeri induk, Inggeris. Ketiga, perkembangan
koloni tergantung pada dukungan finansial melalui perusahaan pasar modal yang dikelola secara
profesional.
Upaya terakhir tersebut baruterwujud pada awal
abad ke-17.
Migrasi
kaum Puritan ke Amerika.
Migrasi sekelompok penganut agama dari Inggeris ke benua
Amerika
berkaitan dengan konflik dalam kehidupan
agama di Inggeris. Perpecahan hubungan antara gereja di Inggeris dengan Gereja Katholik Roma pada masa
Henry Vin (1509-1547) telah mengubah tatanan keagamaan di Inggeris yang
disusul dengan perubahan-perubahan kebijaksanaan yang
dilakukan oleh
raja-raja seterusnya. Raja Edward VI (1547-1558) mencoba menerapkan Protestanisme dalam kehidupan agama. Sedangkan anak Henry yang bernama Mary (1553-1558) mencoba mengembalikan
kehidupan agama
Katholik di bawah pengaruh Paus di Roma.
Sedangkan
Elizabeth I
(1558-1603) mencoba mencari jalan tengah antara ajaran Katholik dengan Protestan.
Sikap Elizabeth
ini sama dengan Henry VIII yang menempatkan
Raja Inggeris
sebagai
pemimpin Gereja Inggeris tetapi masih mengakui beberapa prinsip ajaran Katholik, kecuali kepemimpinan
Paus di Roma.
Selama
pemerintahan Mary, banyak penganut Protestan
meninggalkan Inggeris menuju daratan Eropa untuk menghindari penyiksaan. Ketika Elizabeth naik tahta tahun 1553,
mereka kembali ke Inggeris dan menuntut
agar sikap kompromi Ratu Elizabeth terhadap tradisi
Katholik yang masih dianutnya dihapuskan. Kelompok penganut Protestan "radikal" yang
kemudian dikenal dengan Puritan tersebut menginginakan adanya reformasi dan pembersihan gereja Inggeris dari
pengaruh Katholik
Puritan sebagai aliran agama mendapat dukungan yang luas dari berbagai kalangan mulai
dari orang-orang Inggeris yang tidak puas dengan keadaan sosial saat itu seperti pengangguran, perampasan tanah akibat
esclosure, serta para pedagang dan kaum aristokrat yang mengalami kesulitan
ekonomi akibat imflasi.
Dalam menjalankan kehidupan agamanya, mereka
menghendaki pentingnya memelihara ketertiban dalam beragama dan kehidupan
sosial. Para
penganutnya percaya bahwa Puritan bukan hanya mampu menjelaskan pengalaman-pengalaman
religius penganutnya melainkan
juga bisa dijadikan alat untuk memecahkan masalah-masalah sosial. Karena rasa tidak puas dengan kondisi
di Inggeris tersebut sebagian penganut Puritan memilih berimigrasi ke benua baru Amerika, terutama New England. Dengan demikian, migrasi
orang-orang Inggeris ke Amerika bukan hanya disebabkan karena daya tank Amerika melainkan
juga
rasa tidak
puas
warganya terhadap situasi di Inggeris.
Para pembangkang
Protestan yang tidak setuju dengan Gereja Anglikan di Inggeris sebenarnya terbelah menjadi dua
kelompok, yaitu Separatist
dan Puritan (non separatis).
Walaupun kedua aliran tersebut sepakat mengenai aspek-aspek penting dalam kehidupan agama,
keduanya memiliki
perbedaan pandangan
mengenai
kedudukan gereja. Aliran Puritan, yang lebih
moderat dan memiliki jumlah pengikut lebih banyak, percaya
bahwa
Gereja Inggeris merupakan
gereja yang "benar" walaupun masih perlu direformasi. Menurut para pendukungnya, adalah
penting bagi seorang
Kristen untuk tetap menjalin hubungan dan beribadah di gereja Inggeris
(Anglikan)
untuk meningkatkan upaya reformasi
mereka. Sedangkan menurut
penganut
Separatis, beribadah di
gereja Anglikan merupakan perbuatan dosa, karena itu penganutnya
hanya boleh beribadah di gerejanya. Dalam kehidupan religi, pengaruh Puritan nampak
lebih besar pada kehidupan
agama dan politik
di New England.
Awal Kolonisasi
Amerika
Utara.
Kolonisasi awal Amerika Utara oleh Inggeris mulai lebih intensif sejak pemerintah dipegang oleh Raja James I (1603-1625) yang
berasal dari keluarga Stuart. Untuk mempermudah kaum kolonis memperoleh wilayah di Amerika Utara, Raja
James I mendekati kembali Spanyol
dan mengadakan perjanjian damai tahun
1604. Setelah perjanjian tersebut, Inggeris
mulai
menata
kembali rencananya mengenai
kolonisasi atas Virginia. Didorong oleh kepentingan ekonomi,
dua kelompok pedagang yaitu Virginia Company
dan Virginia Company
of Plymouth meminta raja Inggeris untuk mendirikan perusahaan pasar
modal untuk membiayai kolonisasi Amerika Utara. Setelah itu berbondong-bondong kaum migran dari Inggeris mendatangi benua baru tersebut. Namun demikian,
karena ganasnya alam Virginia dan tidak cocoknya iklim di sana
menyebabkan ribuan kaum migran mati. Dalam
tahun 1622 tercatat 6000 migran mati dari 8000
yang sudah bermukim di sana. Kematian
tersebut ternyata tidak menyurutkan kaum pionir,
kaum
imigran pekerja
keras, untuk terus mencari sumber
daya
alam bagi keuntungan komersial. Percobaan John Rolfe di bidang tanaman tembakan tahun 1622 ternyata
membuahkan hasil.
Setelah dikembangkan bertahun-tahun, akhirnya Virginia menjadi daerah koloni yang sangat
subur bagi produksi tembakau dan mampu meningkat ekonomi koloni tersebut. Model kolonisasi
awal Amerika Utara, selain atas sponsor
pemerintah Ingeris juga dilakukan oleh perusahaan- perusahaan dagang yang mencari komoditi ekspor. Virginia dan Massachussetts
merupakan contoh dari dua daerah koloni yang dikembagkan oleh perusahaan-perusahaan swasta yang
juga
mendapat sponsor dari Raja Inggeris.
Para migran
kaya yang juga pengusaha berani
mengeluarkan biaya dalam jumlah besar untuk mengongkosi para pekerja dari Inggeris. Mereka
mendirikan pusat-pusat pemukiman kaum migram yang kemudian menjadi daerah-daerah koloni yang
memiliki model pemerintahan sendiri. Pusat-pusat pemukiman seperti New Hampshire, Maine, Maryland, Carolina, New Jersey dan Pensylvania, adalah kepunyaan para pengusaha yang berasal dari kalangan bangsawan kaya yang menyewa tanah tersebut dari raja Inggeris
dengan bayaran yang sangat rendah atau hanya bersifat lambang
saja. Misalnya Lord Baltimore
hanya memberikan dua buah anak panah kepada raja setiap tahunnya dan william Penn hanya memberikan dua
lembar kulit binatang.
Dengan karakteristik daerah koloni dan asal usul yang
berbeda-beda namun memiliki
persamaan dalam hal dibangun oleh kaum imigran para
pertengahan abad ke-17 telah terbentuk tiga belas daerah koloni di Amerika Utara, yaitu New Hampshire, Massachusetts, Rhode Island,
Connecticut, Delaware, New York,
New Jersey, Pennsilvania, Maryland,
Virginia, North Carolina, South Carolina
dan
Georgia. Ketiga belas daerah koloni tersebut menjadi cikal bakal
terbentuknya Amerika Serikat tahun 1776 setelah meletusnya revolusi yang digerakkan oleh kaum
kolonis.
Berbagai motivasi orang-orang Eropa bermigrasi ke benua baru Amerika pada abad ke-
16. Motivasi
agama, seperti yang dijelaskan di atas merupakan faktor penting. Selain dari
Inggeris, banyak juga orang-orang Jerman dan Irlandia bermigrasi ke Pennsylvania dan North
Carolina berusaha mencari kebebasan agama. Demikian juga dengan
faktor politik. Banyak orang-orang
dekat kerajaan dari kalangan aristokrat yang tidak setuju dengan kesewenang- wenangan
Raja
Charles
I tahun 1640-an meninggalkan
Inggeris
menuju Virginia.
Faktor ekonomi
bekaitan
dengan
banyaknya
kaum imigran
yang berlatarbelakang ekonomi tidak mampu
di Inggeris dan belahan Eropa lainnya berusaha mencari kehidupan yang
lebih baik di Amerika. Bagi mereka yang tidak mampu membayar biaya perjalanannya akan ditangngung oleh perusahan yang kelak akan mempekerjakan mereka di negeri baru. Sebagian di antara mereka juga
adalah
tawanan di Inggeris
dan kelak
menjadi pelayan kontrak di Amerika. Imigran
setengah
budak Eropa
tersebut
menjadi pemukim koloni-koloni Amerika setelah mereka dibebaskan oleh majikannya menyusul selesainya masa kontrak
mereka.
Ketiga
belas daerah koloni baru
di Amerika tersebut didirikan oleh kaum kolonis dalam
jumlah kecil pada
awal abad ke-17. Koloni Virginia pertama kali dihuni oleh seratus kolonis tahun 1607 yang
kemudian berkembang
menjadi pusat penghasiian tembakau yang sangat baik kualitashya. Sedangkan Maryland pertama kali didirikan oleh seorang
pioner benama George
Calvert. Calvert sebagai seorang penganut katholik Roma mengembangkan koloni ini sebagai
pusat penghasil tembakau, gandum dan jagung. Walaupun pendirinya beragama
katholik para
pemukim di koloni ini sebagian
besar berasal dari
kalangan Protestan Undang-undang Tolerasi
Agama yang dikeluarkan tahun
1649 menjamin tolerasi kehidupan agama di Maryland. Pada tahun
1660 Maryland dan Virginia berkembang menjadi koloni-koloni yang memiliki persaman di
bidang agraria (penghasil tembakau), politik dan pemerintahan sendiri. Karena kebutuhan akan tenaga kerja di bidang
industri tembakau. kedua koloni tersebut menerapkan sistem perbudakan
terhadap penduduk kulit
hitam dari Afrika.
New England pertama
kali dihuni secara permanen sebagai sebuah koloni oleh sekelompok "pejiarah" atau the Pilgrims tahun
1620. Kaum pejiarah ini merupakan kelompok
Separatis yang pemah mengungsi ke Belanda tahun 1607 untuk menghindari tuntutan
penguasa Inggeris.
Walaupun
memperoleh kebebasan
di
bidang agama
di
Belanda, kelompok
ini
menderita secara ekonomi. Kbndisi ini dimanfaatkan oleh London Company
untuk mengangkut
mereka dengan kapal Mayflower ke New England dan diperkerjakan di perusahaan tersebut. Kelompok ini bermukim di Plymouth Coloni yang tidak berkembang dengan baik. Akhirnya
koloni ini digabuingkan dengan Massacussett Bay tahun 1691 yang berkembang
lebih cepat.
Pada tahun 1643, koloni-koloni yang berada di wilayah New England seperti Massachusetts Bay, Connecticut, Plymouth dan New Haven membentuk konfederasi untuk
menghadapi klaim Belanda dan menciptakan kebijaksanaan bersama menghadapi orang-orang Indian. Koloni-koloni
tersebut tidak akan lagi menggantungkan bantuan dari Inggeris yang pada
saat itu sedng dilanda perang sipil. Mereka ingin menunjukkan independensinya dari negeri induk mereka, Inggeris.
Namun demikian, antara tahun 1660-1700, Inggeris
masih
terus berusapa memperluas daerah koloninya dengan cara memaksakan dan mempengaruhi penguasa
di daerah koloni tersebut. Koloni-koloni tersebut tetap menjadi bagian dari imperium Inggeris.
Dengan banyaknya kelompok
imigran dari berbagai
negara seperti Inggeris,
Jerman, Belanda Irlandia, Skotlandia, Swiss,
Perancis
dan lain-lain maka
sejak tahun 1680 koloni Amerika telah menjadi pusat
percampuran kebudayaan dari berbagai negara. Dari jumlah
seperempat juta penduduk berbagai ras dan etnik tahun
1690 telah meningkat menjadi 25 juta tahun
1775. Namun demikian karena jumlah orang Inggeris mencapai sembilan puluh persen dari jumlah kelompok migran maka kebudayan Inggeris tetap dominan di ketigabelas daerah
koloni tersebut. Kebudayan Inggeris yang berkembang di sana tentu saja telah menyesuaikan diri
dengan lingkungan baru Amerika yang
juga dipengaruhi oleh kebudayaan golongan migran yang dibawa dari
Eropa.






0 komentar:
Posting Komentar