AMERIKA
SERIKAT DALAM PENETRASI KE AMERIKA LATIN SAMPAI
MUNCULNYA REVOLUSI NEGARA-NEGARA AMERIKA LATIN (Selatan)
Disusun
guna untuk memenuhi tugas matakuliah Sejarah Amerika
Oleh:
Maftuhin 120210302047
Kelas : B
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN SEJARAH
JURUSAN
PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL
FAKULTAS
KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS JEMBER
2014
KATA PENEGENTAR
Puji syukur kami
panjatkan atas rahmat Allah SWT karena atas rahmat-Nya semata, penulisan
makalah dengan judul “Amerika Serikat
dalam Penetrasi ke Amerika Latin Sampai Munculnya Revolusi Negara-negara
Amerika Latin (Selatan) ” dapat
diselesaikan tepat pada waktunya.
Dengan
terselesaikannya penulisan makalah ini penulis menyampaikan terima kasih kapada semua pihak yang membantu dalam
penyelesaian makalah ini. Kami juga mohon maaf apabila dalam penulisan makalah
ini terdapat kesalahan dalam penulisannya. Kami selaku penulis juga berharap
semoga makalah ini bermanfaat bagi semua pihak terutama akivitas Akademika di Universitas
Jember.
Jember,
20 Mei 2014
Penulis
DAFTAR ISI
Kata
Pengantar……………………………………………………….…...….……ii
Daftar
Isi…………………………………………………………….………...….iii
BAB 1.
PENDAHULUAN……………………………………………….....…….1
1.1
LatarBelaikang…………………………………………………....…….…1
1.2
RumusanMasalah……………………………………………....……….…2
1.3
Tujuan…………………………………………………………....…...........2
BAB 2.
PEMBAHASAN……………………………………………….....….…...3
2.1 Kondisi
Ekonomi dan Politik Amerika Latin.…………………….....…..…3
2.2 Kondisi
Pertumbuhan Kota dan Pemerintahan di Amerika Latin.…….......5
2.3 Munculnya Gerakan Revolusioner di Amerika
Latin..................................7
2.4 Persatuan Negara-negara Amerika Latin....................................................14
BAB 3. PENUTUP…………………………………………………….....……....17
3.1 Simpulan………………………………………………………....……….17
DAFTAR PUSTAKA…………………………………………………....………19
BAB 1. PENDAHULUAN
1.1
Latar
Belakang
Amerika
Selatan atau Amerika Latin adalah negara-negara yang terletak di selatan
Amerika Serikat yaitu semua negara di wilayah benua Amerika bagian Selatan yang
sebagian terbesar bekas koloni kerajaan-kerajaan Spanyol, Portugis, dan
Perancis, termasuk pula negara-negara Karibia seperti Bahama,
Dominika, Kuba, Haiti, Jamaika,, Nicaragua, Suriname, Trinidad &
Tobago dll. Luas daratan seluruh Amerika Selatan lk 7 juta mil persegi dengan
jumlah penduduk pada akhir abad ke-20 lebih dari 350 juta jiwa.
Pada
masa pemerintahan Presiden Republik Indonesia IR.Sukarno tahun 1960-an,
negara-negara Amerika Latin digolongkan oleh Bung Karno sebagai
negara-negara New Emerging Forces bersama-sama negara-negara
Asia dan Afrika yang memperoleh kemerdekaan-nya setelah Perang
Dunia II. Sampai pada waktu ini negara-negara New Emerging Forces
termasuk Amerika Latin masih terus berjuang untuk membebaskan dirinya
dari ketergantungannya ke negara asing khususnya Amerika Serikta,
dan berusaha pula membangun dunia baru yang lebih berkeadilan.
Sebagaimana diketahui perjuangan negara-negara Amerika
Selatan membebaskan diri-nya dari kekuatan asing-khususnya Amerika Serikat-belum
sepenuhnya berhasil. Oleh karena itu perjuangan-nya perlu
terus didukung, dan senantiasa perlu pula disimak dan dipelajari. Untuk
memperoleh gambaran tentang perjuangannya tersebut, maka berikut ini adalah
renungan singkat perjuangan negara dan rakyat Amerika Selatan.
1.2
Rumusan
Masalah
1.2.1
Bagaimana Kondisi Ekonomi
dan Politik Amerika Latin ?
1.2.2
Bagaimana Kondisi Pertumbuhan Kota dan Pemerintahan
Amerika Latin?
1.2.3
Bagaimana Munculnya Gerakan Revolusioner di Amerika Latin?
1.2.4
Bagaimana Persatuan Negara-negara di Amerika Latin?
1.3
Tujuan
1.3.1
Mengetahui Kondisi Ekonomi dan Politik Amerika
Latin.
1.3.2
Mengetahui Kondisi Pertumbuhan Kota dan Pemerintahan
Amerika Latin.
1.3.3
Mengetahui Munculnya Gerakan Revolusioner di Amerika Latin.
1.3.4
Mengetahui Persatuan Negara-negara di Amerika Latin
BAB
2. PEMBAHASAN
2.1
Kondisi Ekonomi dan Politik Amerika Latin
Pada awal abad ke-20 di keluarga negara-negara Amerika Latin
telah bertambah dengan dua negara yaitu Kuba dan Panama. Kuba merdeka dari
Spanyol pada tahun 1902, dan Panama memisahkan diri dari Columbia pada tahun
1903. Walaupun telah menjadi negara merdeka, kedaulatan dari kedua negara
tersebut masih terbatas dengan adanya perjanjian bahwa tentara
Amerika Serikat-lah yang bertanggung jawab menjamin kemerdekaan kedua negara
tersebut. Sementara itu dalam dua dekade berikutnya Republik Dominica,
Nicaragua, dan Haiti menjadi “protectorate’ dari Amerika Serikat.
Pada tahun 1845, beberapa dasawara sebelum memasuki
abad ke-20, Texas yang telah melepaskan diri dari
Meksiko dan bergabung dengan Amerika Serikat . Disamping itu
Amerika juga menginginkan wilayah Meksiko di Pantai Barat. Sudah
barang tentu Meksiko tidak menyukai keinginan tersebut, maka “Perang
Mesiko-Amerika” tidak dapat dihindari. Amerika Serikat
berhasil memenangkan perang dan memperoleh wilayah California dan
Amerika Serikat Barat Daya. Orang-orang Amerika di Utara
tidak menyukai perang ini, karena merasa perang ini hanya untuk
keuntungan Selatan.
Perlu pula diketahui sejak tahun 1900 investasi Amerika
Serikat di Mesiko dan di negara-negara Karibia telah melampaui investasi
Inggris. Hal itu berarti bahwa pada awal abad ke-20 Amerika Serikat sudah
menancapkan pengaruh politik dan ekonomi di Amerika Latin dengan
kuat. Keadaan seperti itu menyebabkan tumbuhnya sikap anti
terhadap Amerika Serikat, yang dikenal oleh kalangan
masyarakat Amerika Latin sebagai “Imperialis Yankee”.
Hal itu digambarkan secara tepat oleh seorang
penulis Uruguay ( Jose Enrique Rodo) sebagai “Dering kutukan terhadap imperialisme Yankee”. Enrique
Rodo menyatakan bahwa sikap menentang pelanggaran militer, ekonomi, dan
kultur dari “Colossus of the North” ( The Colossus of the North is a name for the United States
typically used by those who view the country as oppressive to
its southern neighbors ) adalah suatu sikap yang menjadi dambaan
rakyat Amerika Latin. Walaupun rakyat dan
negara-negara Amerika Latin sesungguhnya lebih memerlukan terciptanya
keadilan dan kemakmuran masyarakatnya.
Kawasan Amerika Latin dianggap penting
oleh Amerika Serikat karena merupakan kawasan yang dekat dengan Amerika
Serikat. Amerika Latin terletak di selatan Amerika Serikat dengan demikian
wilayah itu penting untuk pertahanan Amerika Serikat. Bagi Amerika Serikat
wilayah Amerika Latin berfungsi sebagai garis pertahanannya, baik dalam arti
militer, politis, maupun ekonomis, terutama dalam menanggulangi pengaruh
komunis.
Pada masa tahun 1900-an negara-negara Amerika Latin
adalah penghasil produk-produk primair guna keperluan ekspor. Oleh karena
itu suatu kontraksi perdagangan dunia karena depresi pada tahun 1890-an menyebabkan
kerawanan bagi Amerika Latin seperti tampak dengan terguncangnya
ekonomi Argentina dan Kuba. Disamping itu imperialisme Eropa, yang dengan
intensip meng-eksploitasi koloni-koloninya di wilayah tropis di Asia dan
Afrika, menyebabkan terjadinya krisis kopi (1905) dan runtuhnya boom
karet (1914) di Brasilia.
Beberapa saat setelah itu pecah Perang Dunia I (1914-1918)
membawa makin susutnya volume perdagangan dunia. Keadaan itu
ternyata tidak berlangsung lama, karena kerusakan lahan
pertanian di Eropa berakibat terciptanya pasar baru
bagi produk bahan makanan Amerika Latin. Namun cepatnya recovery
lahan-lahan pertanian di Eropa tersebut (termasuk dihasilkannya gula
beet) membawa pengaruh negatip bagi perdagangan produk-produk
pertanian Amerika Latin.
Pada sepertiga bagian pertama dari abad ke-20
pemerintahan di Amerika Latin telah menjaga stabilitas ekspor hasil produksinya
( produk-produk primer) dengan membatasi dan memangkas
produksi-nya, disamping mengadakan berbagai perjanjian perdagangan
internasional untuk melindungi ekonominya. Dengan terjadinya
depresi pada tahun 1930-an usaha tersebut tampak sia-sia,
Amerika Latin menderita kerugian lebih besar daripada yang
seharusnya. Bahkan ketika secara umum ekonomi dunia telah membaik dan
tumbuh, pengaturan internasional perdagangan komoditi-komoditi tidak efektif
melindungi Amerika Latin. Berkurangnya demand akan tembaga dan timah putih
menyebabkan rusaknya ekonomi serta menyebabkan perpecahan sosial di Chile atau
Bolivia.
Dengan berjalannya waktu, maka muncul kesadaran diantara
masyarakat Amerika Latin, bahwa melindungi diri dari gejolak perubahan ekonomi
dunia adalah mutlak diperlukan antara lain dengan melakukan diversifikasi
ekonomi termasuk industrialisasi.
Perlu pula diketahui bahwa selama Perang Dunia ke-1
industrialisasi di Amerika Latin menjadi marak, pabrik-pabrik dibangun
untuk memproduksi barang-barang konsumsi yang semula diperoleh dari Eropa
dan Amerika Serikat. Sebagian besar pabrik-pabrik yang dibangun tersebut adalah
tergolong industri ringan, namun sewaktu terjadi banjir impor pada
tahun 1920-an sebagian besar pabrik-pabrik tersebut mati tenggelam. Pada
dekade berikutnya terlihat adanya gelombang naik dari industri ringan
tersebut yaitu ketika ekspor produk primer Amerika Latin menurun, dimana
Amerika Latin terpaksa mengurangi impor-nya serta menggantikannya dengan
memproduksi produk dalam negeri sebagai substitusi impor.
Industri substitusi impor terus tumbuh selama
Perang Dunia II sampai perang berakhir. Beberapa negara
seperti Brasilia dan Argentina membuat dinding tarif (tariff
barrier) untuk melindungi industri substitusi impor tersebut serta
menyokong penuh industrialisasi. Industri Argentina tumbuh
dengan pesat dibawah program ambisious yang dilancarkan oleh diktator Juan D
Peron, dan Brasilia tumbuh menjadi negara yang maju industri-nya. Promosi
pemerintah tentang pembangunan pabrik-pabrik (industri)
menggambarkan kemenangan kelompok penduduk kota terhadap kaum elite
pendatang lama yang pada umumnya menguasai daerah-daerah pedesaan.
2.2 Kondisi Pertumbuhan Kota dan Pemerintahan di Amerika
Latin
Pemerintahan kota di Amerika Selatan tumbuh dengan
pesat kira-kira pada awal abad ke-20, kaum imigran di
Argentina dan bagian selatan Brasilia berperan besar dan ikut bertanggung jawab
atas terjadinya pertumbuhan pemerintahan kota tersebut. Para pekerja
kontrak dari Itali, Spanyol dan Portugis ; setelah beberapa tahun bekerja di
ladang-ladang biji-bijian (gandum) atau di kebun-kebun kopi menghadapi
kenyataan tidak mungkin memiliki tanah kebun bagi dirinya, kemudian
mereka cenderung untuk tinggal di kota-kota. Perbaikan sanitasi dan terbasminya
penyakit-penyakit seperti penyakit malaria khususnya di kota-kota ikut
menyumbang pertumbuhan penduduk karena berkurangnya angka kematian,
Setelah Perang Dunia I kegiatan ekonomi dan
perdagangan di Amerika Selatan pada umumnya berkembang, hal itu menyebabkan
diperlukannya tenaga-tenaga managerial dan profesional disamping bertambahnya
lapangan kerja bagi sekretaris, juru tulis, penjaga gudang, pekerja
kereta api, pekerja pelabuhan, pekerja perpakiran dan lain-lain. Namun pada
kenyataannya banyak posisi- posisi yang baik dalam bank-bank, perusahaan
asuransi, pusat-puat perdagangan, dan berbagai fasilitas lainnya masih diisi
oleh tenaga-tenaga managerial dan profesional asing, hal itu telah
membangkitkan kemarahan para pekerja lokal. Keadaan seperti itu
diperparah oleh kenyataan bahwa para kapitalis asing tampak hanya mengeruk
sumber daya alam Amerika Latin saja, baik dari kebun-kebun maupun dari
tambang-tambang.
Para politisi (demagog) kelas menengah di Amerika Latin
mengritik elite penguasa sebagai antek kapitalis Inggris atau Amerika
(Yankee). Para politisi yang sebagian besar kelas menengah terus
berusaha mendapatkan dukungan dari para pekerja yang terancam
hilang pekerjaannya saat ekspor produk-produk Amerika
Latin terus merosot. Keadaan seperti itu menyebabkan faham
nasionalisme tumbuh menjadi faktor penting dalam percaturan politik di Amerika
Latin pada abad ke-20.
Sesungguhnya sejak abad ke-19 konstitusi Amerika Latin telah
mengatur adanya pemerintahan yang dipilih oleh rakyat dan
golongan-golongan, namun partisipasi rakyat belum memadai
seperti terlihat dalam banyak pemilihan umum maupun penetapan
pemenang dari pemilihan-pemilihan tersebut. Phenomena tersebut baru
memperoleh perhatian secara luas pada abad ke-20.
Memasuki abad ke-20 kelompok-kelompok penduduk kota
menghendaki reformasi cara-cara pemilihan, pelopor dari reformasi tersebut
adalah kaum elite tua dari Argentina dan Chile. Adanya reformasi cara
pemilihan telah memungkinkan partai kelas menengah radikal merebut
kedudukan presiden di Argentina (1916) dan di Chile (1920). Sementara itu
perubahan administrasi pemerihtahan telah berpengaruh terhadap kebebasan rakyat
melakukan pemilihan ; di Chilie pemilihan menjadi tidak demokratis lagi
dan di Argentina sebagian besar “presiden terpilih” digulingkan oleh
kudeta militer.
Di Uruguay, Costa Rica, dan Kolumbia pada sebagian besar
dari tiga perempat bagian pertama abad ke-20 pelaksanaan demokrasi
politik berjalan cukup baik. Di Brasilia sepanjang tahun-tahun 1945 – 1965
pemilihan juga telah berjalan dengan baik. Di Kuba (selama
pendudukan Amerika Serikat dari tahun 1940 – 1952) telah dilakukan
pemilihan umum, demikian pula di sebagian besar negara-negara republik Amerika
Latin. Namun sejak awal tahun 1970-an dibanyak negara-negara di Amerika
Latin menganut sistem satu partai yang unik, hal itu antara lain menyebabkan
hasil pemilihan disemua tingkatan telah diketahui terlebih dahulu.
2.3 Munculnya Gerakan Revolusioner di Amerika Latin
Pengalaman pertama yang diperoleh oleh Mesiko pada abad
ke-20 adalah adanya revolusi sosial di berbagai negara
Amerika Latin. Pemberontakan pada tahun 1910 menghadirkan revolusi
pada tahun 1940, tambang dan kilang minyak milik asing dinasionalisir,
dan sebagian besar tanah-tanah produktip diambil-alih dan dibagikan kepada para
petani. Serangan secara simultan dan berhasil terhadap “kapital asing
(tambang minyak dll)” serta “hacendados domestik (tanah-tanah produktip)”
tersebut tidak diduga sebelumnya.
Seperti diketahui pada tahun 1878-1911 Mesiko dibawah
pemerintahan diktator Porfirio Diaz dengan semboyan “Kestabilan dan
Kemajuan” dapat berkembang dan maju menuju ke negara industri. Pemerintahan
dilakukan-nya secara otoriter (tangan besi) dengan dukungan
militer, kebebasan masyarakat dikekang dengan kejam, dan pemilihan umum yang
bebas dihindarinya. Hal itulah yang rupanya menjadi penyebab utama
munculnya gerakan revolusioner dan pemberontakan rakyat Mexico (1910-1920) yang
kemudian menjadi revolusi sosial.
Revolusi Mexico menyaksikan perpindahan dari kekuasaan
diktator otoriter (yang mencoba membangun pemerintahan yang stabil) ke
kekuasaan radikal dan revolusioner. Ketika revolusi berlangsung
tambang-tambang minyak asing diambil alih dan kebun-kebun dibagikan kepada
petani (rakyat miskin) oleh gerakan revolusioner, seperti yang dipimpin
Emiliano Zapata.
Revolusi sosial tersebut bukan-lah terjadi secara
tiba-tiba dan bukan pula oleh sesuatu yang berdiri sendiri, tetapi
karena berbagai sebab yang berakumulasi dan berseluk-beluk
sbb :
- Perkembangan kapitalisme dan imperialisme yang rakus khususnya di Amerika Utara disatu fihak, dan berdirinya negara sosialis sebagai pengetrapan faham Marxisme Leninisme di Rusia dilain fihak,
- Tumbuhnya nasionalisme yang berkolaborasi dengan kaum kapitalis & imperialis asing dan menimbulkan pemeritahan diktator- otoriter disatu fihak, dan rakyat banyak yang menuntut keadilan.
Seperti diketahui adanya gerakan revolusioner
yang menyebabkan revolusi sosial tersebut selain di Mesiko juga terjadi di
berbagai negara Amerika Latin lainnya. Untuk memberi gambaran tentang hal itu
berikut ini adalah uraian singkat tentang keadaan yang terjadi di
Kuba, Chili, Bolivia dan Kolombia.
A.
Kuba
Pada tahun 1895 – 1898, Kuba merupakan jajahan Spanyol,
namun sebagian besar wilayah pedesaan dan sejumlah kota dikuasai
oleh kekuatan revolusi yang ingin menggulingkan-nya. Spanyol yang
menguasai kota-kota besar berusaha menundukkan kekuatan revolusi tersebut,
namun perlawanan tetap berlanjut. Perlawanan kaum revolusioner Kuba surut
setelah pada tahun 1898 Amerika Serikat memenangkan “Perang Spanyol –
Amerika” dan menduduki Kuba. Pada tahun 1902 Kuba
mendapatkan kemerdekaan, dan tentara Amerika Serikat meninggalkan Kuba.
Namun Amerika Serikat melalui “Amandemen Platt”
masih memiliki wewenang yang besar dalam urusan-urusan dalam
negeri Kuba, dan masih berada di Teluk Guantanamo dengan istilah menyewa.
Pada
tahun 1902 – 1906 Kuba berada dalam masa damai yaitu sewaktu pemeritahan Tomas
Estrada Palma sebagai presiden pertama. Namun antara tahun 1906 – 1909 dengan
menggunakan pasal-pasal dalam “Amandemen Platt” tentara Amerika Serikat
menduduki kembali Kuba. Pada tahun 1934 Amandemen Platt tersebut
dicabut, namun keberadaan Amerika Serikat di Teluk Guantanamo terus
diperpanjang sampai saat ini.
Setelah itu beberapa kali Kuba berganti pemerintahan,
pada tahun 1952 Fulgencio Batista dapat mengambil alih (kudeta)
pimpinan pemerintahan Kuba. Fulgencio Batista memimpin Kuba secara
diktator otoriter, hal itu berakibat rakyat merasa tidak puas sehingga banyak
kelompok yang menentangnya.
Pada November 1956 Fidel Castro dengan 82 orang pejuang –
dilatih oleh Alberto Bayo mantan kolonel Tentara Republik Spanyol –
menggulingkan pemerintahan diktator Batista, dalam suasana
masyarakat kecewa dan tidak puas terhadap pemerintah. Castro
kemudian berhasil membangun negara komunis dengan sistem satu partai yang
pertama di belahan Barat dunia. Castro tidak secara resmi mengungkapkan
hal itu.
B.
Chili
Menjelang akhir abad ke-19, pemerintah Chili di Santiago
menjadi lebih kokoh kedudukannya karena: (1)
Kedaulatan Chili atas selat Magelhaens diakui Argentina, (2)
Wilayah Chili diperluas kearah utara yang berdampak hilangnya sepertiga akses
Bolivia ke Samudra Pacifik, dan (3) Ditemukannya deposit senyawa nitrat
yang berharga.
Eksploitasi deposit senyawa nitrat tersebut telah membawa
Chili ke era kemakmuran. Namun konflik antara “Presiden” (Jose Manuel
Balmaceda) dan “Kongres” telah memicu “Perang Saudara” (1891). Perang-saudara
tersebut juga merupakan pertarungan antara pihak yang menghendaki pembangunan
industri dalam negeri dengan fihak perbankan Chili yang
mengutamakan ekspor sumberdaya alam (khususnya House of Edwards
yang memiliki hubungan erat dengan kapitalis asing). “Kongres” memenangkan
konflik tersebut, dan kemudian menerapkan sistem “republik parlementer”.
Pada periode “republik parlementer” tersebut terjadi
pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi, namun juga ditandai
oleh ketidakstabilan politik dan merupakan awal timbulnya apa
yang disebut sebagai "masalah sosial" yaitu adanya gerakan
revolusioner dari kaum proletar. Masalah sosial tersebut timbul karena tidak
terwujudnya "pemerataan kemakmuran".
Chili selama bertahun-tahun berganti-ganti pemerintahan,
baik melalui kudeta militer maupun melalui proses pemilihan.
Pada tahun 1970 Allende ( berfaham sosialis ) memenangkan
pemilihan umum. Pemerintahan Allende mengajukan suatu program
yang dalam garis besarnya sbb :
1)
menjalankan sistem ekonomi dan sosial yang
sosialistis,
2)
meningkatkan peranan kaum buruh,
3)
melakukan nasionalisasi bank-bank asing, dan
4)
memperkuat "milisi rakyat".
Dibawah Allende keadaan ekonomi dan politik di Chili
tidak menjadi stabil, media, politisi, serikat buruh, dan
berbagai organisasi lainnya selalu melakukan aksi-aksi
yang menentang Allende. Sejumlah aksi menentang Allende
tersebut didukung oleh Amerika Serikat. Hal itu
menyebabkan pada permulaan tahun 1973 Chili mengalami krisis
ekonomi dan hiperinflasi hingga 600% s/d 800%. Krisis ekonomi
tersebut diperparah oleh adanya pemogokan-pemogokan yang
dilakukan oleh para dokter, guru, pemilik truk, pekerja tambang
tembaga dll, serta didukung oleh mahasiswa.
Pada 26 Mei 1973 Mahkamah Agung Chili secara terbuka ikut
serta menentang pemerintahan Allende, dan berpendapat bahwa kebijakan
Allende adalah pemicu ketidak stabilan ekonomi, politik, dan sosial di
Chlili.
Pada 11 September 1973 terjadi kudeta militer menggulingkan
pemerintahan Allende. Kudeta militer tersebut kemudian membentuk
junta militer yang dipimpin oleh Jenderal Augusto
Pinochet, dan mengambil alih kendali negara. Meskipun kudeta
tersebut ilegal menurut konstitusi Chili, namun “Mahkamah Agung Chili”
mendukung dan mengukuhkan-nya. Pada 11 September 1980
sebuah “konstitusi baru” diiberlakukan melalui suatu
referendum. Referendum ini kontraversial dan dipertanyakan oleh berbagai
organisasi internasional.
Jenderal Pinochet menjadi presiden republik Chili selama 8
tahun. Setelah Pinochet memperoleh kekuasaan, beberapa ratus orang revolusioner
meninggalkan Chili bergabung dengan tentara Sandinista di Nikaragua, ,
pasukan gerilya di Argentina, atau ke kamp pelatihan di Kuba, Eropa
Timur, dan Afrika Utara.
C.
Bolivia
Seperti diketahui sejak merdeka sampai medio abad ke-19
Bolivia telah kehilangan lebih dari setengah wilayahnya ke negara
tetangga karena suatu peperangan. Pada akhir abad ke-19, meningkatnya
harga emas dunia telah membawa Bolivia menjadi negara yang secara ekonomi
relatip makmur dan secara politik stabil. Sementara itu selama awal abad
ke-20 “timah” telah menggantikan “emas” sebagai sumber kekayaan negara
yang paling penting. Dalam tiga puluh tahun pertama abad
ke-20 pemerintahan Bolivia didominasi oleh oleh elit yang
menjalankan kebijakan sosial dan ekonomi liberal (laissez-faire).
Pada tahun 1951 partai yang berbasis luas, Gerakan
Nasionalis Revolusioner (Movimiento Nacionalista Revolucionario disingkat MNR),
memenangkan pemilihan presiden Bolivia. Kemenangannya tersebut tidak
didukung oleh kekuatan-kekuatan elit, namun MNR (1952) ternyata
dapat melakukan suatu perubahan dengan sukses. Presiden Victor
Paz Estenssoro dengan dukungan rakyat melakukan perubahan-perubahan sbb :
1)
memperkenalkan hak pilih,
2)
melaksanakan reformasi tanah,
3)
mempromosikan pendidikan pedesaan dan
4)
nasionalisasi tambang terbesar (timah).
Pada tahun 1964, junta militer menggulingkan Presiden
Estenssoro, kemudian pada 1971 Hugo Banzer Suarez (seorang Kolonel
AD) diangkat sebagai presiden Bolivia. MNR (1971-1974) mendukung
pemerintahan Banzer. Selama pemerintahan presiden Banzer ekonomi Bolivia
tumbuh dengan mengesankan, walaupun terjadi banyak pelanggaran hak asasi
manusia (HAM) dan krisis fiskal yang akhirnya melemahkan dukungan
masyarakat terhadap-nya. Banzer pada tahun 1978 dipaksa menggelar pemilu,
dan Bolivia kembali memasuki masa kekacauan politik.
Pada tahun 1979 dan 1981 dilaksanakan Pemilu, namun hasilnya
tidak meyakinkan dan ditandai oleh banyak kecurangan. Setelah itu Bolivia
selalu mengalami krisis politik dan ekonomi, pemerintahan tidak stabil (sering
berganti-ganti melalui kudeta dan kontra kudeta militer), terjadi banyak
pelanggaran HAM, dan marak praktek perdagangan narkotika. Bahkan
menurut “Guinness World Records” selama kurang dari satu abad
di Bolivia terjadi kudeta lebih dari 190 kali, terbanyak di dunia.
Selama pemerintahan presiden Gonzalo Sanchez de Lozada
telah dilakukan reformasi ekonomi dan sosial secara agresip,
dimana investor asing boleh menguasai 50% kepemilikan dan melakukan
kontrol terhadap manajemen perusahaan publik seperti di perusahaan-perusahaan
minyak bumi, telekomunikasi, penerbangan, kereta api
dan listrik. Reformasi (dan restrukturisasi) ekonomi ini sangat
ditentang oleh golongan tertentu yang terus melakukan
protes dan bahkan kadang-kadang disertai
kekerasan, terutama di La Paz (ibukota) dan Chapare (daerah
penghasil koka).
Pada tahun 1994 – 1996 pemerintah de Lozada
menawarkan kompensasi moneter kepada petani koka ilegal di wilayah
Chapare, jika mereka menghentikan penanaman koka. Kebijakan ini dapat sedikit
mengurangi produksi koka. Seperti diketahui pada tahun 1990-an Bolivia
adalah pemasok hampir sepertiga koka (bahan baku kokain) dunia.
Sementara itu Central Obrera Boliviana (COB) menentang
berbagai kebijakan pemerintah Bolivia , namun tentangan itu tidak efektip
seperti terlihat pada saat pemogokan guru (1995). Pada saat itu COB tidak dapat
mengerahkan dukungan dari anggotanya termasuk dukungan dari
para pekerja konstruksi dan pabrik. Pemogokan gagal. Kemudian
pemerintah menyatakan negara dalam keadaan darurat militer untuk menjaga
agar gangguan yang disebabkan oleh aksi para guru tersebut tidak
terulang.
Seperti diketahui para guru tersebut dipimpin oleh pendukung
Trotsky , dan dianggap sebagai serikat paling militan di COB. Kegagalan
aksi para guru tersebut merupakan pukulan besar bagi COB, yang kemudian (1996)
terperosok ke dalam pertikaian internal.
Kemudian
antara Januari 1999 sampai April 2000 terjadi aksi protes dalam skala besar di
kota terbesar ketiga di Bolivia (Cochabamba). Aksi protes tersebut adalah
sebagai reaksi terhadap privatisasi sumber daya air. Akibat privatisai tersebut
pengelola sumberdaya air (perusahaan asing) menaikan harga
air hingga dan dua kali lipat.
Gonzalo Sanchez de Lozada mundur pada Oktober 2003, dan
digantikan Wakil Presiden Carlos Mesa. Namun 6 bulan kemudian (Juni 2005)
Mesa digantikan oleh ketua MA Eduardo Rodriguez. Pada 18 Desember
2005 Evo Morales “pemimpin
sosialis pribumi” terpilih sebagai presiden.
Catatan : Pemimpin revolusioner Che Guevara dibunuh
oleh tim gabungan CIA dan Angkatan Darat Bolivia pada 9 Oktober 1967, di
Bolivia. Seorang perwira dalam tim yang menangkap dan menembak Che Guevara
adalah Felix Rodriguez. Rodriguez mengatakan bahwa setelah ia menerima
perintah presiden Bolivia, maka dilakukannya eksekusi terhadap Che Guevara.
D.
Kolombia
Republik Kolombia seperti yang dikenal sekarang terbentuk
pada tahun 1886, setelah sebelumnya terjadi perang sipil selama dua tahun.
Perang sipil seperti itu sering terjadi di Kolumbia, yang paling terkenal
adalah “perang sipil 1000 hari (1899 - 1902)” yang terjadi bertepatan
dengan keinginan Amerika Serikat mengambil alih pembangunan “Terusan
Panama”. Hal tersebut berakibat Panama menjadi sebuah negara merdeka
lepas dari Kolombia pada tahun 1903.
Kolombia juga terlibat dalam perang yang cukup lama dengan
Peru, karena konflik teritorial. Setelah perang dengan Peru
berakhir Kolombia mengalami stabilitas politik, yang diselingi jeda
karena pertikaian berdarah di akhir 1940-an s/d awal 1950-an, periode tersebut
dikenal sebagai periode “ La Violencia (Kekejaman)”.
Sejak Gustavo Rojas berkuasa melalui sebuah kudeta, dan
melakukan negosiasi dengan kaum gerilyawan (1953 – 1964) suasana kekejaman
mereda. Setelah Gustavo Rojas, Kolumbia berada dibawah pemimpin militer
Jenderal Gabriel Paris Gordillo. Meredanya suasana kekejaman tersebut
ternyata tidak meniadakan adanya kontradiksi. Bahkan kekuatan kaum
gerilyawan di desa-desa akhirnya secara resmi membentuk FARC (FARC
atau Fuerzas Armadas Revolucionarias de Colombia atau Revolutionary Armed Forces of
Colombia) untuk melawan pemerintah
yang dipandangnya pro Amerika Serikat.
Antara tahun 1980 – 1990 terbentuklah “kartel obat” yang
berkuasa dan kejam di Kolumbia yaitu “Kartel Medellin” (Pablo Escobar)
dan “Kartel Kali”, dalam hal tertentu kartel-kartel tersebut mempengaruhi
politik dan ekonomi di Kolombia.
Pada tahun 1991 “Konstitusi Kolombia 1991” yang diajukan
oleh “Badan Konstitusi Kolombia”. diberlakukan. Konstitusi ini mengatur
posisi-posisi penting di bidang politik, etnik, gender, dan hak assasi
manusia (HAM).
2.4 Persatuan
Negara-negara Amerika Latin
Seperti diketahui pada tahun 1940 Tan Malaka telah
memperkirakan, jika bumi terdiri dari 8 atau 9
“gabungan negara (negara raksasa)”, maka bumi akan damai (Lihat : “Asean
& Aslia” Ngunandiko No 7). Gabungan negara (negara
raksasa) tersebut antara lain adalah “Amerika Serikat dan Canada” dengan
luas daratan lk 8 juta mil persegi, dan “Amerika Selatan” dengan luas daratan
lk 7 juta mil persegi.
Amerika
Selatan atau Amerika Latin tersebut kini (2010) terdiri dari lebih 15 negara
antara lain Argentina, Bolivia, Brasilia, Chili, Kolombia, dan Uruguay
serta berpenduduk lebih dari 350 juta jiwa. Negara-negara
Amerika Latin tersebut dapat dikatakan telah merupakan negara merdeka, namun
tampaknya belum satupun menjadi negara “Merdeka 100%”. Hanya “Trinidad
& Tobago” serta “Antigua & Barbuda” yang termasuk dalam katagori
“Merdeka 100% secara Kwantitatip” (lihat ; “Merdeka 100%” Ngunandiko. No10)
Negara-negara Amerika Selatan sadar, bahwa mereka
tidak akan mencapai “Merdeka 100%” jika tidak bersatu. Dan
persatuan tersebut hanya akan kokoh jika Amerika Selatan dapat menjadi
“gabungan negara (negara raksasa)”, dan Amerika Selatan sangat mungkin menjadi
“gabungan negara (negara raksasa)” karena :
1) Memiliki sumberdaya yang cukup untuk
seluruh kebutuhannya,
2) Memiliki luas wilayah yang
memungkinkan setiap penduduk memiliki ruang yang cukup bagi hidupnya.
3) Memiliki iklim dan penduduk dengan
adat-istiadat yang lebih kurang sama, dan
4) Mampu membentuk suatu
pemerintahan yang demokratis.
Bahwa
Amerika Selatan akan bersatu dan menjadi “gabungan negara (negara
raksasa)” telah terlihat tanda-tandanya sejak lama. Tanda
itu antara lain tampak pada saat gerakan kemerdekaan Amerika Selatan (South
American independence movement) pimpinan Simon Bolivar memperoleh kemenangan
atas tentara kerajaan Spanyol di Ayachucho (1824). Letak
Ayacucho adalah di Peru (sekarang).
Región
Ayacucho adalah sebuah región (wilayah) di
Peru yang memiliki luas wilayah 43.814 km².Tanda-tanda bahwa Amerika Selatan
akan bersatu menjadi "gabungan negara (negara raksasa) tersebut kemudian
menjadi lebih nyata sejak hampir 50 tahun yang lalu tepatnya pada tahun
1969, dimana negara- negara Amerika Selatan
telah berhasil membentuk berbagai kerja-sama antara lain sebagai berikut
:
1)
Andean Community (Comunidad Andina
de Naciones-CAN)
Pada 1969 lima negara Amerika
Selatan yaitu Bolivia, Kolombia, Ekuador dan Peru menandatangani Andean
Pact yang merupakan apa yang disebut sebagai “Andean Community”.
2)
Latin American Economic System
(SELA)
Pada 1975 terbentuk Latin American
Economic System (SELA). Saat ini (2010) SELA beranggotakan Argentina,
Barbados, Belize, Bolivia, Brasil, Chile, Kolombia, Kosta Rika, Kuba, Dominika,
Ekuador, El Salvador, Grenada, Guatemala, Guyana, Haiti, Honduras, Jamaika,
Meksiko, Nikaragua, Panama, Paraguay, Peru, Suriname, Trinidad & Tobago,
Uruguay, dan Venezuela.
3) Latin American Integration Association (LALA/ALADI)
Pada 1980 Latin American Integration
Association (LALA) berdiri. LALA beranggota 12 negara yaitu Argentina,
Brasil, Bolivia, Chile, Kolombia, Kuba, Ekuador, Meksiko, Paraguay, Peru,
Uruguay dan Venezuela.
4)
Mercado Comun del Sur (Mercosur)
Pada 1991 Mercado Cumun de Sur
(Mercosur) dibentuk oleh 4 negara yaitu Argentina, Brasil, Paraguay dan
Uruguay. Mercosur dimaksudkan untuk memperkuat para anggotanya menghadapi
perkembangan perekonomian dunia. Mercosur memiliki pasar dan tarif impor
bersama. Pada tahun 2006, Venezuela bergabung menjadi anggota penuh Mercosur.
Kerjasama
antar negara-negara tersebut kiranya dapat dipandang sebagai langkah awal
menuju terbentuknya “negara gabungan Amerika Selatan”.
BAB 3. PENUTUP
3.1
Simpulan
Negara-negara
Amerika Latin bersama dengan negara-negara Asia dan Afrika
yang memperoleh kemerdekaan-nya setelah Perang Dunia II dinamakan oleh
Bung Karno (Presiden Pertama Republik Indonesia) sebagai New Emerging
Forces. Sampai pada waktu ini the New Emerging Forces masih terus
berjuang untuk membebaskan diri dari ketergantungannya terhadap kekuatan lama
yang telah mapan (the Old Established Forces) khususnya ketergantungan ke
kekuatan kapitalisme & imperialisme dibawah pimpinan Amerika Serikat.
Ekonomi
negara-negara Amerika Latin pada abad ke-20 masih sangat tergantung pada
ekspor produk primer yang berupa hasil pertanian, perternakan dan pertambangan.
Sejumlah negara Amerika Latin telah memiliki industri yang cukup
maju, namun kekuatan industrinya belum cukup untuk melindungi ekonominya
terutama jika terjadi suatu kegoncangan ekonomi dan
perdagangan dunia.
Pada
awal abad ke-20 kota-kota di Amerika Selatan tumbuh dengan pesat.
Kaum imigran dari Portugal, Spanyol, Italia dll terutama di Argentina dan
bagian selatan Brasilia berperan besar dan ikut bertanggung jawab atas
terjadinya pertumbuhan kota-kota tersebut. Kota-kota tersebut
menjadi pusat lembaga-lembaga keuangan (Bank, Asuransi dll) yang didominasi
kapital asing, dan menjadi simpul untuk menyedot hasil kekayaan
alam (kebun, ternak, dan tambang) Amerika Latin.
Pemerintahan
di Amerika Selatan yang dilakukan secara otoriter
(militer) dan yang didukung kekuatan asing
menjadi penyebab utama munculnya gerakan revolusioner.
Gerakan revolusioner tersebut jika berakumulasi dan berseluk-beluk
dengan :(a) konflik internal di masing-masing negara (b) kapitalisme dan
imperialisme yang rakus khususnya dari Amerika Utara, dan (c)
faham sosialis sebagai pengetrapan faham Marxisme Leninisme seperti
yang terjadi di Rusia, maka akan membawa terjadinya revolusi
sosial seperti yang terjadi di Mesiko, Kuba dll
Amerika
Selatan atau Amerika Latin kini (2010) terdiri dari lebih 15 negara
seperti Argentina, Bolivia, Brasilia, Chili, Kolombia, Uruguay dan lain-lain ;
berpenduduk lebih dari 350 juta jiwa. Seluruh negara-negara Amerika
Selatan tersebut dapat dikatakan telah merupakan negara merdeka, namun belum
satupun menjadi negara “Merdeka 100%”.
Negara-negara
Amerika Selatan tersebut sadar, bahwa mereka tidak akan mencapai
“Merdeka 100%” jika tidak bersatu. Kesadaran tersebut mulai terlihat
sejak kemenangan Simon Bolivar atas Spanyol di Ayachucho (1824), dan
menjadi lebih nyata dengan terbentuknya berbagai kerjasama (1969).
Persatuan
negara-negara Amerika Selatan akan kokoh jika dapat menjadi “gabungan
negara (negara raksasa)”. Hal itu sangat mungkin karena secara keseluruhan
Amerika Selatan memiliki : (1) Sumberdaya yang cukup bagi seluruh
kebutuhannya, (2) Luas wilayah yang memungkinkan setiap penduduk memiliki
ruang yang cukup, (3) Iklim dan adat-istiadat penduduk yang lebih
kurang sama, dan (4) Kemampuan membangun pemerintahan yang demokratis.
DAFTAR PUSTAKA
Setia, Pandu.
2007.Amerika mengobarkan perang. Jakarta : mediakita.






0 komentar:
Posting Komentar