DIPLOMASI DAN PERLUASAN WILAYAH AMERIKA
SERIKAT
Disusun
guna untuk memenuhi tugas matakuliah Sejarah Amerika
Oleh:
Maftuhin
120210302047
Kelas : B
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN SEJARAH
JURUSAN
PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL
FAKULTAS
KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS JEMBER
2014
KATA PENEGENTAR
Puji syukur kami
panjatkan atas rahmat Allah SWT karena atas rahmat-Nya semata, penulisan
makalah dengan judul “Perbudakan dan Rasialisme di Amerika” dapat diselesaikan
tepat pada waktunya. Penulisan makalah dengan judul “Diplomasi
dan
Perluasan Wilayah Amerika Serikat” Program Studi Pendidikan Sejarah Fakultas Keguruan dan Ilmu
Pendidikan Semester Genap.
Dengan
terselesaikannya penulisan makalah ini penulis menyampaikan terima kasih kapada semua pihak yang membantu dalam
penyelesaian makalah ini. Kami juga mohon maaf apabila dalam penulisan makalah
ini terdapat kesalahan dalam penulisannya. Kami selaku penulis juga berharap semoga
makalah ini bermanfaat bagi semua pihak terutama akivitas Akademika di
Universitas Jember.
Jember, 10
April 2014
Penulis
DAFTAR ISI
Kata
Pengantar…………………………………………………………………ii
Daftar
Isi……………………………………………………………………….iii
BAB 1.
PENDAHULUAN…………………………………………………….1
1.1
Latar
Belaikang…………………………………………………….
1.2
Rumusan
Masalah………………………………………………….
1.3
Tujuan……………………………………………………………...
BAB 2.
PEMBAHASAN………………………………………………………
2.1 Diplomasi
dan
Perluasan Wilayah Amerika Serikat pada
abad ke-19…3
2.2 Diplomasi John Quincy Adams
dan
Aneksasi Florida………………..6
2.3 Strategi Doktrin Monroe dan Manifest
Destiny……………………….8
2.4 Aneksasi Texas………………………………………………………...9
2.5 Imperealisme
AS dan Hegemoninya di Asia………………………….12
2.6 Ancaman Militerisme Amerika………………………………………..13
BAB 3.
PENUTUP…………………………………………………………....15
3.1 Simpulan………………………………………………………………15
3.2 Saran…………………………………………………………………...15
DAFTAR
PUSTAKA…………………………………………………………17
iii
BAB 1. PENDAHULUAN
1.1
Latar
Belakang
Sejarah diplomasi Amerika
Serikat sejak berdiri sebagai sebuah negara
tahun 1776 ditandai dengan upaya
pemeliharaan hubungannya dengan bangsa-bangsa lain di dunia dengan tujuan untuk meningkatkan kemakmuran Amerika
Serikat. Sejak tahun 1776 sampai sekarang
bangsa Amerika selalu berusaha untuk meningkatkan kemakmuran bangsanya melalui upaya- upaya diplomatik untuk membentuk sebuah imperium besar yang berkuasa dan berpengaruh atas
bangsa-bangsa
lain di dunia. Pada awal abad ke-19 mereka telah mampu membangun sebuah imperium kontinental yang besar.
Manifest Destiny adalah kepercayaan
historis yang menyebutkan bahwa Amerika Serikat ditakdirkan, bahkan dinobatkan
oleh Tuhan, untuk menguasai daratan Amerika Utara, dari pantai Atlantik hingga
pantai Pasifik. Pada waktu yang relatif sama mereka telah mengembangkan imperium perdagangan di seluruh dunia, menggantikan posisi Portugal, Spanyol, Belanda dan
Inggeris. Pada akhir abad ke-20 ini bangsa
Amerika boleh bangga
sebab mereka telah menjadi
bangsa yang telah berpengaruh
atas bangsa-bangsa di dunia, baik secara politik, ekonomi, militer dan budaya. Sejak berakhiraya perang
dingin (cold-war)
dan tumbangnya Uni Soviet pada awal tahun
1990-an, tidak diragukan lagi bahwa Amerika
Serikat merupakan sebuah imperium yang sangat besar yang
tidak memiliki tandingan di dunia.
1.2
Rumusan
Masalah
1.2.1
Bagaimana Diplomasi
dan
Perluasan Wilayah Amerika Serikat pada
abad ke-19?
1.2.2
Bagaimana Diplomasi
John
Quincy Adams
dan
Aneksasi Florida?
1.2.3
Bagaiamana Strategi Doktrin Monroe Manifest Destiny?
1.2.4
Bagaiakmana Aneksasi Texas?
1.2.5
Bagaiamana Imperealisme AS dan Hegemoninya di Asia?
1.2.6
Bagaimana Ancaman Militerisme Amerika?
1.3
Tujuan
1.3.1
Menegetahui Diplomasi
dan
Perluasan Wilayah Amerika Serikat pada
abad ke-19.
1.3.2
Mengetahui Diplomasi
John
Quincy Adams
dan
Aneksasi Florida.
1.3.3
Mengetahui Strategi Doktrin Monroe Manifest Destiny.
1.3.4
Mengetahui Aneksasi Texas.
1.3.5
Mengetahui Imperealisme AS dan Hegemoninya di Asia.
1.3.6
Mengetahui Ancaman Militerisme Amerika.
BAB 2. PEMBAHASAN
2.1 Diplomasi
dan
Perluasan Wilayah Amerika Serikat pada
abad ke-19
Sejarah diplomasi Amerika Serikat pada akhir abad ke-18 dan sepanjang abad ke-19
ditandai dengan ekspansi wilayah ke
bagian
barat dan selatan. Datam kegiatan ekspansi tersebut
Amerika Serikat yang pada tahun 1776 masih terdiri dan 13 negara bagian harus berhadapan
dengan negara-negara
imperialis Eropa
seperti
Inggeris, Perancis, dan Spanyol. Dengan
demikian,
upaya diplomatik untuk menjaga dan memperluas wilayah teritorial dilakukan oleh
pemerintah Amerika Serikat
terhadap imperium-imperium tersebut, baik yang dilakukan secara
damai maupun yang didukung oleh kekuatan
militer.
Berkat upaya diplomatik, yang
didukung oleh kekuatan ekonomi
dan militer, Amerika
Serikat pada
pertengahan abad ke 19 telah menjadi sebuah negara yang luas wilayahnya sama
seperti sekarang,
dikurangi dengan
Hawaii dan Alaska. Ketika George Washington
diambil sumpah sebagai presiden di
Wall
Street
tahun 1789 kurang dari empat
juta
penduduk menempati tiga belas negara bagian yang
berlokasi di sepanjang pantai timur Amerika Serikat.
Perluasan wilayah sebenarnya telah dilakukan pada jaman kolonial. Pada
jaman tersebut para pionir Amerika menjelajah ke
arah
barat untuk membuka lahan-lahan baru
hingga ke pengunungan Appalachian. Setelah memperoleh kedaulatan tahun 1776, penjelajahan ke arah barat memperoieh percepatan karena didukung
oleh negara-negara bagian di wilayah timur
melalui upaya-upaya diplomatik ketika mereka
berhadapan dengan kekuatan-kekuatan
imperialis
Eropa, seperti Inggeris, Perancis dan Spanyol. Negara-negara
bagian di wilayah timur yang
mengklaim wilayah dari pantai Atlantik sampai Sungai
Mississippi harus berhadapan
dengan orang-orang Indian yang didukung oleh kekuatan imperialis Barat. Untuk mengatasi hal tersebut
pada tahun 1794
komisi khusus yang
dipimpin oleh John
Kay,
melalui
upaya
diplomatik, berhasil menandatangani perjanjian dengan Inggeris.
Dalam perjanjian
tersebut Inggeris
sepakat untuk
tidak lagi mendukung
orang-orang Indian di wilayah baratdaya. Perjanjian yang
sama juga ditandatangani dengan Spanyol yang memungkinkan Amerika Serikat memperluas wilayahnya
ke wilayah barat laut. Kejadian-kejadian dalam sejarah Eropa
dan
kawasan Karibia berpengaruh terhadap upaya diplomatik Amerika Serikat dalam perluasan wilayahnya.
Pada
tahun
1800
Spanyol menyerahkan wilayah Lousiana,
satu kawasan antara Sungai
Missisippi dan Pegunungan Rocky, kepada Perancis. Napoleon
Bonaparte, penguasa Perancis yang telah berhasi
menguasai
Spanyol
di Eropa, bermaksud menggunakan wilayah Louisiana sebagai jalan untuk menjadikan
Perancis sebagai kekuatan imperium di Amerika. Namun demikian, sebuah revolusi yang digerakkan oleh
orang-orang kulit hitam di kepulauan Hispaniola (sekarang
Haiti dan Santa Dominggo) merusak rencana
Napoleon.
Revolusi yang
dipimpin
oleh
Toussaint L'Ouverture
dan didukung oleh 500.000 budak kulit hitam Haiti hampir berhasil memaksa 40.000 orang kulit putih pemilik
budak untuk membebaskan
perbudakan di Haiti. Napoleon segera mengirimkan pasukannya untuk
meredam gerakan revolusi serta menduduki wilayah New Orleans dan menguasai wilayah
Louisnana. Thomas Jefferson, yang melihat ancaman Perancis bila tetap menguasai Lousiana, mengutus Jams Monroe
ke Paris dan
mendesak dutabesar (dubes) Amerika di Paris, Robert Livingstone, untuk berunding
mengenai kemungkinan membeli wilayah Louisiana dari
Perancis.
Melihat kemungkinan semakin kuatnya dominasi imperialis
Eropa, di Amerika,
pemerintah Amerika
Serikat, dibawah presiden Thomas Jefferson, berusaha
untuk memperoleh wilayah Louisina dengan berbagai cara,
Upaya diplomatikpun
dilakukan dengan gencar untuk
usaha tersebut. Ketika
Robert Livingstone, yang
secara intensif melakukan upaya diplomatik, bertemu dengan menteri
luar negeri Perancis, Talleyrand, sebuah tawaran menarik diberikan oleh menlu Perancis. Kurang
dari tiga minggu kemudian perjanjian jual beli tersebut ditandatangani.
Perancis
yang sedang berhadapan dengan Inggeris, baik di Eropa dan
Amerika, lebih suka menyerahkan Louisiana kepada
Amerika Serikat daripada
kepada Inggeris, dan sepakat dengan harga
12 juta dollar atas wilayah pertanian yang sangat kaya
tersebut.
Dalam sejarah diplomasi Amerika Serikat pembelian yang terjadi pada tahun 1803 tersebut sebagai jual beli yang
paling menakjubkan dalam sejarah diplomasi
Amerika Serikat. Setelah memperoleh wilayah Lousiana, Amerika Serikat masih dihadapkan dengan
ancaman Inggeris yang masih menguasai Canada. Amerika
Serikat juga membenci Inggeris yang merupakan saingan beratnya dalam perdagangan di kawasan Atlantik
dan memonopoli barang-barang dagangan di kawasan tersebut. Orang-orang Amerika Serikat di kawasan barat
menghendaki diteruskannya
perang dengan Inggeris yang selalu
mengancam kapal-kapal
Amerika di lautan bebas.
Persaingan dengan Inggeris tersebut mendorong dilakukannya
pertimbangan diplomatik
melalui peperangan dengan negara
Eropa tersebut. Perang tahun 1812 yang dikenal dengan War Hawks tersebut mengakhiri masalah Indian serta
memberi jalan kepada
para
pioner-pioner Amerika
untuk membuka lahan yang lebih luas di
bagian barat. Perang
tersebut diakhiri dalam Perjanjian Ghent di Belgia tahun 1814 berkat campurtangan Tsar
Rusia yang sedang berusaha mendekati Inggeris dalam mengakhiri perang
dengan Napoleon Bonaparte. Dalam perjanjian tersebut Amerika dan Inggeris sepakat untuk menjaga Great Lakes sebagai kawasan bebas militer,
kebebasan bagi nelayan Amerika, Inggeris dan Canada
untuk menangkap ikan di New Foundland dan Labrador serta persetujuan mengenai
perbatasan baru antara Amerika Serikat dan Canada, dan dijadikannya kawasan Oregon sebgai daerah terbuka bagi orang Inggeris
dan Amerika.
Perjanjian dengan Inggeris tersebut menjadikan politik diplomasi Amerika
Serikat sementara lebih berorientasi ke
dalam dalam upaya merebut Florida
serta menyatukan wilayah hingga ke pantai
Pasifik.
2.2 Diplomasi
John
Quincy Adams
dan
Aneksasi Florida
John Quincy Adams merupakan menteri luar negeri Amerika Serikat terpopuler
dalam sejarah diplomasi Amerika Serikat., Pelaksanaan politik luar negerinya menunjukkan semangat kesatuan nasional Amerika Serikat. Sebagai menlu di bawah Presiden baru, James Monroe (1817-1825) dan anak presiden
AS kedua, Adams berusaha
mengimplementasikan sentimen
kesatuan nasional dalam politik luar negerinya yang
independen. Aneksasi Florida dari Spanyol
tercapai berkat kepiawaian upaya diplomatiknya.
Sebagai penganut ajaran Calvin, dia
percaya
bahwa
perluasan imperium
Amerika tak dapat dihindari dan
sangat penting untuk diperjuangkan. kedua negara
dalam hal-hal tertentu memiliki pandangan yang
sama dalam menghadapi negara- negara Eropa.
Terbentuknya "Holy Alliance " yang beranggotakan para monarki Eropa yang dipimpin oleh Rusia dan berusaha mempertahankan
pemerintahan
monarki di Eropa dan
Amerika Latin
merupakan ancaman bagi
kepentingan
Amerika Serikat dan Inggeris.
Adams tidak percaya begitu saja dengan Inggeris yang
memiliki kepentingan yang
relatif sama dalam
menghadapi
negara-negara
Eropa lain. Untuk mencegah ambisi Inggeris di Amerika Latin, Adams menjalin hubungan erat dengan
Tsar Alexander dari Rusia, sahabat yang dikenalnya dengan baik ketika dia menjadi dubes di St Peterburg.
Aliansi tersebut merupakan sarana yang
baik untuk mencegah ambisi Inggeris
di Amerika Serikat
dan
Amerika Latin.
Untuk menghancurkan kepentingan Inggeris di benua
Amerika Adams melalukan upaya
diplomatik serta
penetrasi militer terhadap pelabuhan-pelabuhan dagang di West Indies yang dimiliki Inggeris. Melalui upaya diplomatik yang gencar serta dukungan para
pedagang Amerika
maka Inggeris membuka pelabuhan-pelabuhannya di daerah koloninya
itu.
Keberhasilan tersebut
merupakan langkah awal bagi upaya menghancurkan imperium Inggeris di benua
Amerika serta upaya
penghancuran imperium kolonial di benua
tersebut. Untuk menyatukan seluruh kontinen Amerika Utara dibawah Amerika Serikat, Adams harus
mendekati imperium Eropa
yang masih
bercokol
di
wilayah tersebut Salah satu
di
antaranya adalah Spanyol yang masih menguasai Frorida Timur. Florida Barat
diperoleh Amerika Serikat
dalam Perjanjian
Ghent tahun
1812.
. Dalam
Perang Seminole
(1817) antara pasukan
AS
dengan orang-orang Indian,
Jackson yang diutus James Monre sekaligus melakukan ekspansi ke daerah pendudukan Spanyol, Spanyol mengusulkan kepada Presiden Monroe agar Jackson ditarik dari kawasan itu. Usulan tersebut
diterima
Kabinet Monroe, kecuali Adams. Menlu Adams membela tindakan Jackson dengan niengatakan bahwa Spanyol tidak
mampu memelihara stabilitas sosial di Florida. Spanyol meminta
bantuan Inggeris. Namun demikian, Inggeris menolak
untuk ikut campur. Inggeris
melihat bahwa perpecahan imperium Spanyol di Amerika dapat membuka
jalan bagi pedagang-pedagang Inggeris.
Adams memanfaatkan kenetralan Inggeris untuk merebut seluruh wilayah Florida serta Texas.
Pada bulan Februari 1819
menandatangani perjanjian dengan
Adams yang
berisi: penyerahan Florida Timur kepada AS, pengakuan atas kedudukan AS di Florida Barat, membatalkan klaimnya atas Oregon serta
jalur pelayaran menuju Sungai
Mississippi kepada AS, serta perbatasan bam sepanjang
42 derajat lintang utara sampai Sungai
Sabine, Red and Arkansas hingga ke Pasifik. Sebaliknya
AS harus melapaskan tuntutannya atas
Texas dan
membayar lima juta dollar yang diklaim
warga AS atas
Spanyol. Bagi Amerika Serikat,
perjanjian tersebut merupakan jalan pembuka yang
lebih luas ke arah Pasifik dan Amerika Latin
terutama untuk kepentingan dagang dalam rangka menghadapi pembatasan-pembatasan dagang yang dilakukan oleh Inggeris di kawasan tersebut.
Ketika terjadi
gerakan
revolusi di negara-negara
Amerika
Latin terhadap imperium Spanyol dan Portugal, sikap menlu AS, John Quincy Adams, mendua. Pada tahun 1821, dia menganggap penting
kawasan
tersebut
untuk
kepentingan
ekonomi.
Sebaliknya
dia
tidak
bersedia membantu gerakan revolusioner negara-negara tersebut terhadap kekuatan imperialis Eropa. Sikap
Adams kemudian berubah setelah beberapa
negara Amerika Latin memperoleh
kedaulatannya dari Spanyol dan Portugal pada
tahun 1822.
2.3 Strategi
Doktrin Monroe dan Manifest Destiny
Pemahaman John Quincy Adams yang mendalam mengenai kepentingan Inggeris atas
kawasan Amerika
serta
ikatan antara
Amerika Utara dan Selatan
dapat membantu
kita memahami Doktrin Monroe. Kesempatan mengklaim hak-hak tambahan
secara
terbuka muncul pada
tahun 1821 ketika Tsar Rusia, Alexander I, menyatakan bahwa semua kawasan di bagian utara Amerika mulai dari garis 51 derajat dan sepanjang seratus mil dari pantai ke kawasan Pasifik menjadi
milik Rusia dan tertutup bagi kepentingan non-Rusia.
Dalam menjawab pengumuman Tsar
tersebut, Adams menemui pajabat Rusia pada tanggal 17 Juli 1823. Sikap
tegas Adams bukan hanya ditujukan kepada
Rusia tetapi juga terhadap Inggeris yang
masih menguasai
kawasan barat
daya, terutama
Oregon. Pada musim panas 1823, menlu Inggeris George Canning
memanfaatkan sikap politik
Adams untuk kepentingan
Inggeris. James Monroe meminta
negarawan lain, Jefferson dan Madison,
untuk memberikan saran. Kedua negarawan tersebut sepakat untuk bekerjasama
dengan Inggeris. Menghadap
sikap
tegas Adams,
George
Canning
mengadakan perundingan rahasia
dengan duta besar Perancis di London, Prince de Polignac, akhir tahun 1823, untuk memperoleh pemahaman bersama mengenai situasi di Amerika Latin. Dalam perundingan tersebut diketahui
bahwa Perancis sebenamya tidak berambisi untuk membangun imperium kolonial di kawasan
tersebut. Kabar tersebut tidak mengubah pandangan Adams
mengenai
kebijaksanaan AS terhadap ambisi
Perancis, Inggeris terhadap Amerika Latin.
Pada tanggal 2 Desember 1823 Presiden Monroe mengirimkan pesan pada Kongress mengenai tiga prinsip politik luar negeri AS, yaitu 1) Benua
Amerika sejak sekarang tidak bisa lagi digunakan sebagai daerah kolonisasi oleh negara-negara Eropa, 2) AS tidak akan membiarkan adanya usaha negara-negara Eropa tersebut memperluas pengaruhnya atas kawasan Amerika, dan 3) AS tidak akan ikut campur
dalam urusan dalam
(internal concerns) negara-negara Eropa. Tiga prinsip luar negeri AS tersebut terkenal dengan sebutan
Doktrin Monroe.
Doktrin Monroe merupakan sarana bagi Amerika Serikat untuk
mencegah kolonisasi lebih lanjut dari negara-negara
Eropa atas benua Amerika. Bagi AS sendiri doktrin tersebut akan memperkuat Perjanjian Transkontinental, serta beberapa persetujuan lain seperti terbukanya Oregon bagi pemukim Amerika, serta kesempatan ekonomi yang lebih luas bagi AS menyusul keberhasilan revolusi
di negara-negara Amerika latin. menurut Adams,
memang merupakan kemenangan diplomatik
bagi AS dalam jangka pendek.
Dalam perkembangan lebih lanjut, negara-negara Amerika Latin yang "diuntungkan"
oleh adanya Doktrin Monroe tidak sepenuhnya dapat dipengaruhi oleh kebijaksanaan politik luar
negeri AS.
Dalam hubungannya
dengan kepentingan Rusia di Amerika, Doktrin Monroe
memiliki dampak positif. Menlu
Adams, sebagai diplomat ulung
mempu memanfaatkan doktrin tersebut
untuk menyepakai sebuah konvensi
dengan Rusia tahun 1824. Dalam konvensi tersebut Tsar
Rusia menyerahkan
klaimnya atas
pantai barat Amerika Serikat
dan menerima perbatasan sebelah selatan sepanjang 54 derajat bagi orang-orang Rusia-Amerika. Rusia juga menanggalkan klaimnya atas Oregon dan San Fransisco. Sebaliknya AS berjanji untuk mengatur kembali hubungannya dengan penduduk New England di Canada yang kerap menjual senjata genggam dan
minuman keras kepada
penduduk Indian di Amerika Serikat.
Dalam jangka panjang
konvensi tersebut memberikan kesempatan yang lebih luas kepada
pedagang-pedagang Amerika
di sepanjang pantai barat, sebaliknya Rusia bisa diusir dari Oregon yang kemudian dijadikan daerah eksplorasi
oleh
orang-orang Inggeris dan Amerika. Setelah Adams
terpilih
sebagai presiden
AS
tahun 1825, beberapa kemenangan diplomatik diperolehnya.
Manifest Destiny adalah kepercayaan historis yang
menyebutkan bahwa Amerika Serikat ditakdirkan, bahkan dinobatkan oleh Tuhan,
untuk menguasai daratan Amerika Utara, dari pantai Atlantik hingga pantai
Pasifik. Para pendukung Manifest Destiny percaya bahwa ekspansi itu bukan hanya
bagus, tapi hal itu juga nyata (“manifest”) dan pasti (“destiny”). Konsep ini
begitu mempengaruhi kebijakan negara Amerika Serikat pada tahun 1800-an. Sejarawan William E. Wecks mencatat
tiga tema kunci yang biasanya disinggung oleh pendukung Manifest Destiny:
1.
Kebajikan bangsa Amerika dan institusi-institusinya.
2. Misi untuk menyebarkan institusi
tersebut, dalam rangka menyelamatkan dan memperbaiki dunia untuk image Amerika
Serikat.
3.
Takdir dari Tuhan untuk menyelesaikan tugas ini.
Seperti penjelasan Abraham Lincoln dalam suratnya ke Kongres
pada tanggal 1 Desember 1862 yang menyatakan bahwa Amerika Serikat sebagai
“harapan terbaik yang terakhir bagi dunia”.
Frasa Manifest Destiny sering dikaitkan dengan ekspansi
daerah Amerika Serikat dari tahun 1812 hingga 1860. Rentang waktu dari akhir
perang tahun 1812 hingga permulaan Perang Sipil Amerika disebut “Masa Manifest
Destiny”.
Sebenarnya
Manifest Destiny itu masih berhubungan erat dengan Doktrin Monroe. Sejarawan
Walter McDougall menyebut Manifest Destiny sebagai turunan dari Doktrin Monroe,
karena ketika Doktrin Monroe tidak menyebut tentang ekspansi, tapi ekspansi
dibutuhkan untuk menjalankan doktrin tersebut.
Pada pemilu Amerika Serikat tahun 1896, Manifest Destiny
dikutip oleh kaum Republikan untuk mempromosikan ekspansi ke seberang lautan.
Ketika Presiden William Mckinley mendukung aneksasi Hawaii pada tahun 1898, dia
berkata bahwa “kita benar-benar membutuhkan Hawaii dan hal tersebut lebih baik
daripada ketika kita memperoleh California. Hal itu adalah Manifest Destiny”.
Pada
abad 20, frasa Manifest Destiny sudah tidak digunakan lagi. Presiden Theodore
Roosevelt menyatakan penolakan yang gamblang terhadap ekspansi wilayah. Tapi
Ekspansionisme ini digantikan oleh Intervensionisme sebagai alat untuk
mempertahankan Doktrin Monroe.
Presiden Woodrow Wilson melanjutkan paham Intervensionisme
Amerika. Dia membawa Amerika Serikat ke kancah Perang Dunia I dengan argument
“Dunia harus aman untuk demokrasi”. Saat ini, frasa Manifest Destiny
hanya digunakan untuk menjelaskan sejarah Amerika, terutama pada 1840-an. Tapi
istilah ini terkadang masih digunakan oleh kaum kiri dan pengkritik kebijakan
pemerintah Amerika Serikat di Timur Tengah dan di manapun. Bagi mereka Manifest
Destiny diinterpretasikan sebagai “Imperialisme Amerika”.
2.4 Aneksasi Texas
Aneksasi Texas
dari Mexico tahun 1845 dilatarbelakangi oleh kondisi Texas
sebagai
tempat migrasi besar-besaran warga
AS ke
kawasan tersebut. Di Texas, kaum migran AS mengolah lahan
pertanian
untuk memproduksi katun dan gula. Penduduk AS yang
merasa
tidak
suka dengan pemerintahan
Mexico dibawah presiden Santa Anna mampu melepaskan diri dari Mexico
dan
kemudian mendirikan
Republik Texas tahun
1836. Republik baru
tersebut berada
di bawah protektorat Inggeris yang merupakan saingan AS di benua Amerika. Dengan demikian, AS sangat berkepentingan dengan Texas.
Presiden Tyler
memanfaatkan issu
Texas untuk kepentingan
politiknya, yaitu untuk memperoleh dukungan dari
Partai
Demokrat yang bersifat ekspansionis dan kontinentalis yang ditentang oleh Partai Whig. Setelah melalui perdebatan panjang di parlemen, Presiden Tyler berhasil menyatukan
Texas ke
dalam Union. Sebuah resolusi dalam Kongres berhasil menyepakati aneksasi Texas dan ditandatangani oleh Presiden Tyler tanggal
5 July 1845.
Untuk memenuhi keinginan rakyat Amerika Predsiden AS yang baru Berkat kepiawaian Presiden Polk
mempengaruhi Kongres maka keluarlah persetujuan dari Kongress bahwa
dengan tindakan
Mexico tersebut maka AS berada dalara keadaan perang dengan Mexico. Berkat kepiawaian Presiden Polk mempengaruhi Kongres maka keluarlah persetujuan dari Kongress bahwa
dengan tindakan
Mexico tersebut maka AS berada dalara keadaan perang dengan Mexico. Mexico
mengalami kekalahan
total
dan terpaksa menandatangani Perjanjian Guadalupe
Hidalgo
tahun
1848. Dalam perjanjian tersebut Mexico menarik klaimnya atas Texas dan menyerahkan New Mexico dan California
serta mengakui
Rio De Grande sebagai perbatasan kedua negara.
2.5 Imperealisme
AS dan Hegemoninya di Asia
Amerika Serikat mengalahkan Jepang dalam Perang Dunia Kedua
dan karenanya mendapat dominasi di Asia. Selama jaman Perang Dingin, Amerika
Serikat mempertahakan dominasinya di Asia melalui perang agresi, pertama di
Korea dan kemudian di Vietnam. Hegemoni AS di dunia berhubungan erat dengan
dominasinya di Asia. Tahun 1998, laksamana muda Joseph W. Prueher, ketika itu
Kepala Staf Komando Pasifik AS, bicara dalam satu pertemuan dengan mahasiswa di
Universitas Fudan di Shanghai. Tema pembicaraan adalah “Keamanan Asia-Pasifik
dan Tiongkok”. Prueher berkata bahwa Amerika Serikat mempunyai tanggung jawab
di wilayah yang terbentang dari pantai barat Amerika Utara sampai pantai timur
Afrika, satu daerah yang meliputi 43 bangsa. Dia juga berkata:” sebagai satu bangsa
di Pasifik, kepentingan ekonomi, politik dan militer AS di Pasifik beraneka
ragam dan abadi. Kepentingan ini mendorong keterlibatan aktif dan permanen kami
di wilayah itu”. Laksamana muda itu menegaskan bahwa perdagangan AS dengan
daerah itu mencapai lebih dari $500 milyar per tahun, yang mana kira-kira
merupakan 35% dari total perdagangan AS dan dua kali lipat perdagangan AS
dengan Eropa. Lagi pula, dia berkata bahwa Asia penting bagi AS secara militer,
dan lima dari tujuh perjanjian pertahanan bersama adalah dengan negeri-negeri
Asia Pasifik. Laksamana muda juga ingin meyakinkan hadirin bahwa “AS menganggap
dominasinya di Asia adalah permanen dan tidak akan mengijinkan siapapun untuk
menantangnya”.
Sejak jatuhnya Soviet Uni, Amerika
Serikat telah menjadi satu-satunya superpower, dan ia telah melakukan semua
dalam kekuasaannya untuk mempertahankan hegemoninya. Pada tahun 1992, dirancang
Defense Planning Guidance (DPG = Bimbingan Rencana Pertahanan) di bawah
pengawasan Paul Wolfowitz ia menjabat Wakil Menteri Pertahanan di bawah Dick
Cheney. DPG menetapkan strategi AS untuk mempertahankan hegemoni militer di
tiga daerah besar. Pertama, AS akan menjalankan satu politik yang akan mencegah
Negara manapun untuk mengembangkan kemampuan militer yang sama atau lebih besar
dari pada AS. Kedua, AS akan melakukan serangan preventif terhadap Negara yang
mengembangkan kemampuan militer baru yang mungkin akhirnya akan membahayakan AS
dan kawan atau sekutunya. Serangan preventif ini harus dilakukan sebelum
ancaman muncul di ambang pintu. Bagian terakhir dari DPG menegaskan bahwa
pejabat dan personal militer AS bebas dari tuntutan pengadilan kejahatan perang
internasional manapun.
Rancangan yang hampir final dari DPG bocor sampai media
komunikasi dan menyebabkan reaksi keras dari sekutu AS, karena ia
memperingatkan baik Jerman maupun Jepang sebagai potensi kekuatan militer yang
dapat pada suatu hari menandingi AS dan menekankan bahwa mereka tidak boleh
dibiarkan menampilkan tantangan itu. DPG tidak mendapat persetujuan sebagai
strategi militer resmi AS, tetapi AS terus mencari jalan untuk mengokohkan
status satu-satunya superpower di jaman post-Perang Dingin.
2.6 Ancaman Militerisme Amerika
Pada akhir Perang Dunia II Amerika Serikat datang
mendominasi Asia dan melancarkan dua perang agresif besarnya di daerah Asia. Perang Korea dan perang Vietnam
adalah bagian dari strategi keseluruhannya untuk mengendalikan komunisme. Atas
nama memerangi komunisme, AS menggunakan kekuatan brutal dalam dua perang
agresif dan menyebabkan kematian jutaan orang dan kerusakan yang sangat besar
sekali di Asia. Rakyat Korea dan Vietnam yang gagah berani berjuang melawan
agresi dan menang. Tiongkok membantu kedua negeri itu untuk memenangkan perang
pembebasannya.
Rakyat di Asia telah menderita perang
agresi tidak saja dalam beberapa dekade yang lalu selama dominasi Amerika
Serikat, tetapi sebenarnya sudah selama beberapa abad yang lalu. Sudah sejak
jaman kolonial dulu, kekuasaan Barat berkompetisi untuk mendapatkan sepenggal
bagian dari Asia: Inggris, Perancis, Jerman, Spanyol, Portugal, Belanda,
Amerika Serikat dan kekuasaan Barat lainnya yang lebih kecil, semuanya terlibat
dalam memotong-motong Asia untuk dijajah, kemudian diikuti oleh usaha Jepang
untuk membuat seluruh Asia sebagai imperiumnya. Jepang menyerbu Tiongkok dan
negeri Asia lainnya sebelum mendorong Amerika Serikat masuk dalam perang.
Tetapi rakyat biasa di Asia, termasuk rakyat Jepang, adalah sama dengan rakyat
di mana-mana di dunia ini. Mereka ingin hidup dalam perdamaian dan mereka sudah
lelah dengan perang yang dipaksakan kepada mereka.
BAB 3. PENUTUP
3.1 Simpulan
Pada
akhir abad ke!8 dan
sepanjang
abad
ke-l9 ditandai dengan upaya perluasan wilayah ke
arah barat
dalam sejarah diplomasi Amerika Serikat. Upaya diplomatik dilakukan terhadap negara-negara Eropa yang telah lebih dahulu menguasai wilayah Amerika utara seperti Inggeris,
Perancis, Rusia dan Spanyol. Sejak tahun 1776 sampai sekarang
bangsa Amerika selalu berusaha
untuk meningkatkan kemakmuran bangsanya melalui upaya-upaya diplomatik untuk membentuk
sebuah imperium besar yang berkuasa dan berpengaruh atas bangsa-bangsa lain di dunia.
Pada
awal abad ke-19 mereka telah mampu membangun sebuah imperium kontinental yang besar.
Pada waktu yang
relatif sama juga mereka telah mengembangkan imperium perdagangan di
seluruh dunia, menggantikan
posisi Portugal, Spanyol, Belanda
dan Inggeris.
Upaya
diplomatik untuk memperluas wilayah tersebut dilakukan terhadap negara-negara
Eropa yang berkepentingan dengan daratan Amerika, baik Amerika Utara maupun Amerika
Latin. Dengan upaya diplomatik yang gencar beberapa negara bagian (koloni) digabungkan ke dalam "imperium" AS
dengan cara
membeli seperti yang terjadi pada kasus Louisiana. Koloni
lainnya digabung dengan cara perundingan seperti antara lain dalam Perjanjian Transcontinental
dan
Guadalupe Hildadgo serta
melalui peperangan dengan Mexico. Dukungan politik, ekonomi dan militer serta kecakapan para
diplomat dan pemimpin AS dalam melakukan offensive
diplomasi sangat berpengaruh
terhadap keberhasilan diplomasi mereka
terhadap negara-negara yang dijadikan sasaran
diplomasi.
3.2 Saran
Kita
semua, sudah tentu, sudah begitu kenal akan kekuatan merusak yang nyata dari
mesin militer AS untuk membunuh rakyat dan merusak negeri. Tak seorangpun dapat
meremehkan kekuatan nyata dari senjata pemusnahan masal yang dimiliki AS dan
kesediaannya untuk menggunakannya terhadap rakyat tak berdosa. Kita, rakyat,
harus berbuat apa saja untuk mencegah terjadinya perang. Solidaritas
internasional antara rakyat yang cinta damai adalah satu-satunya jalan untuk
mengalahkan perang dan perampokan imperialis.
DAFTAR PUSTAKA
Anugrah,Michelle.
2005. Garis Besar Sejarah Amerika Serikat. Biro Program Informasi Internasional. Departemen Luar Negeri A.S
BAB_IX.Bangsa_Amerika.PDF






0 komentar:
Posting Komentar